
Seri Anak-Anak Lantai Dua, Buku 5. Dia bilang kamu beda. Dia bilang jangan bilang Mama.
Catatan untuk pembaca. Untuk usia 13 tahun ke atas. Buku ini menyentuh tema orang dewasa yang memanipulasi remaja, tekanan untuk menikah di usia anak, dan pola makan yang terganggu. Kalau kamu sedang berat, halaman pembuka yang gratis berisi nomor layanan bantuan.
Vale, enam belas tahun, penari dengan ribuan pengikut, tinggal berdua dengan mamanya, perawat ICU yang jaga malam tiga kali seminggu, di rumah petak di Cibubur. Sejak setahun lalu ada seseorang yang paling mengerti dia: Kak Bram, dua puluh tiga tahun, yang mendengarkan cerita tentang papanya yang pergi, yang bilang musiknya norak, yang memesankan salad untuknya, yang memintanya merahasiakan semuanya.
Lalu Vale menemukan pesan Bram untuk seorang anak empat belas tahun, kata demi kata sama dengan pesan pertama yang dulu ia terima. Waktu ia mencoba pergi, Bram mengancam. Keluarga besar di Ambon mendengar kabar dan memutuskan: kawin saja, habis perkara.
Novelet tentang grooming, citra tubuh, dan keberanian bersuara untuk diri sendiri dan untuk anak lain, berjalan bersama kisah Ester. Dilengkapi Ruang Diskusi, tanda-tanda grooming, langkah kalau diancam dengan foto, dan nomor layanan bantuan.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 29.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 29.000
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Vale mengecilkan musiknya satu tingkat lagi sebelum menekan tombol rekam, walaupun tidak ada orang lain di kamar itu yang bisa mendengar.
Kamarnya dua langkah kali tiga langkah, di rumah sewa petak di sebuah gang di Cibubur, dengan satu jendela yang menghadap tembok rumah tetangga dan satu cermin panjang yang ditempel di balik pintu dengan selotip hitam di keempat sudutnya. Ponselnya berdiri di atas tumpukan buku pelajaran kelas sebelas, disandarkan ke botol minyak kayu putih supaya tidak jatuh. Lampu kamar ia matikan. Lampu meja belajar ia putar ke dinding, supaya cahayanya memantul dan jatuh lembut di wajah, seperti yang ia pelajari dari video-video orang lain.
Hitungan empat. Lima, enam, tujuh, delapan.