
Seri Anak-Anak Lantai Dua, Buku 4. Ia akhirnya duduk di meja yang ia inginkan. Harganya: tertawa waktu sahabatnya dihina.
Catatan untuk pembaca. Untuk usia 13 tahun ke atas. Buku ini menyentuh tema rasisme dan perundungan di sekolah. Kalau kamu sedang berat, halaman pembuka yang gratis berisi nomor layanan bantuan.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Galih, enam belas tahun, anak Sunda yang ke gereja dan tinggal bersama kakeknya di Cibinong, setiap subuh memanah dengan busur bambu buatan Aki. Di sekolah ia hanya ingin satu hal: tidak lagi menjadi anak yang duduk di ujung. Lalu Reza, anak paling berkuasa di sekolah, menendang sebuah kursi kosong ke arahnya dan menawarinya menjadi calon wakil ketua OSIS.
Harganya diam. Waktu Kus, sahabatnya, siswa program afirmasi dari Papua pegunungan yang suara basnya membuat orang berhenti menyapu, dijadikan bahan tertawaan di grup kelas, di tangga, lalu dalam video editan yang sampai ke kampungnya, Galih tidak berkata apa-apa. Sampai ia membaca rencana untuk menghadang Kus di parkiran yang gelap, dan harus memilih.
Novelet tentang persahabatan, rasisme sehari-hari, dan harga berdiri di samping teman, berjalan bersama kisah Daud dan Yonatan. Dilengkapi Ruang Diskusi, langkah untuk korban dan saksi perundungan, dan nomor layanan bantuan.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 29.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Rp 29.000
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Anak panah ketiga menancap di karung jerami sejengkal di bawah lingkaran merah, dan Aki, yang duduk di bangku kayu di bawah pohon jambu dengan sarung tersampir di bahu, mendecakkan lidah.
"Lihat ke belakang," kata Aki lagi, seperti tidak mendengar. "Bahunya ikut. Anak panah itu ikut ke mana bahu pergi."
Galih menurunkan busurnya. Langit di atas atap-atap seng Cibinong masih biru tua, belum pagi betul, dan dari masjid di ujung gang suara orang mengaji baru selesai. Halaman belakang rumah Aki tidak panjang. Dua puluh langkah dari pintu dapur sampai pagar bambu, dan karung jerami itu digantung di pagar, di depan tumpukan batako sisa yang dulu mau dipakai Bapa membangun kamar tambahan dan tidak pernah jadi. Di karung itu ada lingkaran merah yang dicat Aki dengan sisa cat kusen.