
Seri Anak-Anak Lantai Dua, Buku 6 (penutup seri). Ia selalu bertanya kepada semua orang. Sampai suatu malam, ia yang perlu ditanya.
Catatan untuk pembaca. Untuk usia 13 tahun ke atas. Buku ini menyentuh tema kelelahan menjaga semua orang, siswa PKL yang dipekerjakan melewati batas, dan seorang remaja yang meninggal karena bunuh diri (disebut, tidak digambarkan). Kalau kamu sedang berat, halaman pembuka yang gratis berisi nomor layanan bantuan.
Kila, tujuh belas tahun, kelas dua belas SMK Tata Boga, adalah kakak bagi semua anak Lantai Dua. Setiap pukul sepuluh malam ia mengirim satu pertanyaan kepada teman-temannya: Masih? Setiap pukul empat pagi ia membuat klappertaart di dapur Oma di Pasar Minggu dengan resep yang tidak pernah ditulis.
Lalu tahun terakhirnya mulai mematahkannya. Dapur katering tempat ia magang memeras anak-anak PKL sampai tengah malam. Oma mulai lupa nama-nama. Bu Ter, pemilik laundry di bawah Lantai Dua, terkena stroke, dan dari sebuah buku catatan bersampul cokelat Kila akhirnya tahu kenapa Lantai Dua pernah didirikan.
Novelet penutup seri, tentang kepemimpinan anak muda, merawat yang menua, dan siapa yang menjaga orang yang selalu menjaga semua orang, berjalan bersama surat-surat Paulus kepada Timotius. Dilengkapi Ruang Diskusi, hak siswa PKL, tanda bahaya dan cara bertanya, serta nomor layanan bantuan.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 29.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 29.000
Masuk untuk membuka aksesBuku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Pukul empat pagi, dapur Oma berbau kelapa.
Kila sudah bangun sejak setengah empat. Ia tidak perlu alarm. Tubuhnya sudah tahu jam ini sejak kelas tujuh, sejak pertama kali Oma membangunkannya dengan menepuk telapak kakinya dua kali dan berbisik ayo, kelapa so tunggu, dan ia tersandung ke dapur dengan mata setengah tertutup dan menemukan Oma sudah duduk di kursi plastik di sebelah kompor, dengan tongkat di sandaran, menunggu.
Pagi ini Oma juga sudah duduk di sana. Kursi plastik yang sama. Tongkat yang sama. Daster batik yang sama, dengan kardigan cokelat di atasnya karena pagi di Pasar Minggu dingin di bulan Januari.
"Pagi, Nona." Oma tersenyum. Giginya tinggal separuh, tetapi senyumnya penuh. "Hari ini berapa?"