
Seri Anak-Anak Lantai Dua, Buku 1. Juara satu, anak pengurus gereja, dan sudah berbulan-bulan tidak bisa tidur.
Catatan untuk pembaca. Untuk usia 13 tahun ke atas. Buku ini menyentuh tema kelelahan, serangan panik, dan pikiran ingin tidur lalu tidak bangun lagi. Kalau kamu sedang berat, halaman pembuka yang gratis berisi nomor layanan bantuan.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 29.000
Masuk untuk membuka aksesBuku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Tiur, empat belas tahun, pianis ibadah remaja dan juara satu olimpiade matematika tingkat kota. Di gereja namanya diumumkan. Di ruang tamu, ayahnya sudah menancapkan paku kedua untuk piagam berikutnya. Tidak ada yang tahu ia berbulan-bulan tidak bisa tidur, jantungnya berdebar sampai sesak pukul dua pagi, dan tangannya gemetar di atas tuts keyboard yang macet.
Pada pagi seleksi provinsi, Tiur naik kereta ke arah yang salah, sampai ke ujung jalur, dan tertidur di bangku di bawah sebuah pohon. Seorang ibu penjual roti membangunkannya dua kali dan berkata: makan dulu.
Novelet tentang lelah, rasa malu, dan jalan pulang yang pelan, berjalan bersama kisah Nabi Elia di bawah pohon arar. Untuk remaja, dan untuk orang tua serta pembina yang ingin mengerti mereka. Dilengkapi Ruang Diskusi, contoh rencana aman, dan nomor layanan bantuan.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 29.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Tuts Fa di tengah keyboard itu macet lagi.
Tiur menekannya, dan tuts itu turun lalu tidak mau naik. Bunyinya menggantung di ruangan, tipis dan agak sumbang, sampai ia mencongkel ujung tuts itu dengan kuku telunjuk. Fa itu naik pelan-pelan, seperti Opung bangun dari kursi rotan.
Ia mencoba sekali lagi. Turun. Tidak naik.
Dari jendela yang terbuka ke atap seng, panas pukul tiga sore masuk bersama bau deterjen dari lantai satu. Mesin cuci Bu Ter sedang memeras. Keramik di bawah kaki Tiur bergetar halus, dan getaran itu merambat ke bangku plastik yang ia duduki. Kipas dinding berbunyi klik setiap kali kepalanya berputar ke kiri.
Tiga puluh lima menit lagi ibadah mulai. Lagu pembuka yang dikirim Kak Yere semalam ditulis dalam nada yang terlalu tinggi untuk suara anak laki-laki di ruangan ini, jadi Tiur menurunkannya dua nada. Akor barunya sudah ia tulis dengan pensil di balik lembar fotokopi, huruf kecil-kecil yang rapat: C, Am, F, G. F lagi. Lalu F lagi. Lagu itu penuh F.