
Seri Anak-Anak Lantai Dua, Buku 2. Ia mau kerja di kapal supaya Mama bisa pulang. Umurnya baru lima belas.
Catatan untuk pembaca. Untuk usia 13 tahun ke atas. Buku ini menyentuh tema kehilangan ayah, perasaan menjadi beban, dan perdagangan orang. Kalau kamu sedang berat, halaman pembuka yang gratis berisi nomor layanan bantuan.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 29.000
Masuk untuk membuka aksesBuku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Ancis, lima belas tahun, anak Larantuka yang menumpang di kontrakan petak Om dan Tantanya di Bojonggede, bangun pukul empat setiap pagi untuk membungkus nasi kuning. Mamanya bekerja di kebun sawit di Sabah sejak enam tahun lalu, dan teleponnya hampir tidak pernah tersambung. Di bawah kasur Ancis ada kaleng biskuit berisi tabungan untuk menyusul Mama.
Lalu Om Bene kehilangan pekerjaan, banjir datang, dan Ancis mendengar Tanta berbisik: satu mulut lagi. Seorang sepupu menawarkan jalan keluar. Seorang kenalan dari kampung, yang rajin ke gereja dan mengenal almarhum Bapa, menawarkan kerja di kapal ikan dengan gaji enam juta sebulan. Umur? Itu urusan Kaka.
Novelet tentang rasa jadi beban, saudara yang menjual, dan pengampunan yang tidak menghapus kebenaran, berjalan bersama kisah Yusuf yang dibuang ke sumur kering. Dilengkapi Ruang Diskusi, tanda-tanda tawaran kerja berbahaya, dan nomor layanan bantuan.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 29.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Nomor itu sudah dua belas kali ia tekan, dan dua belas kali perempuan di dalam ponsel menjawab dengan suara yang sama, sabar dan tidak peduli: nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan.
Ancis berdiri di ambang pintu tangga Lantai Dua, setengah di dalam ruangan dan setengah di luar, karena di situ sinyalnya paling bagus. Begitu kata Ken waktu ia pertama datang ke sini dua tahun lalu. Di belakangnya tangga turun ke bau deterjen dan mesin cuci yang malam ini diam. Bu Ter menutup laundry dan menggantung karton bertuliskan TUTUP, NATAL di pintu. Di depannya ruangan penuh: kursi plastik pinjaman sampai ke tangga, lampu-lampu kecil yang separuh menyala, pohon Natal plastik setinggi pinggang dengan semua hiasannya bergerombol di satu cabang karena Lusi yang memasangnya.