
Seri Anak-Anak Lantai Dua, Buku 3. Ia bisa memperbaiki ponsel apa saja. Ia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri.
Catatan untuk pembaca. Untuk usia 13 tahun ke atas. Buku ini menyentuh tema judi online, pinjaman ilegal, dan ancaman dari penagih. Kalau kamu sedang berat, halaman pembuka yang gratis berisi nomor layanan bantuan.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Ken, lima belas tahun, anak pemilik kios aksesoris ponsel di sebuah pusat elektronik yang mulai sepi, dikenal di sekolah sebagai tukang servis. Tangannya tidak pernah gemetar di dalam ponsel orang lain. Orang tuanya bekerja sampai pukul sepuluh malam, dan di apartemen yang kosong seorang teman main gim yang memanggilnya "bos" mengirim tautan: saldo gratis lima puluh ribu, cuma iseng.
Berbulan-bulan kemudian, Ken sudah meminjam di enam aplikasi pinjaman memakai foto KTP Papa, menjual barang kios diam-diam, dan berbohong tentang ponsel titipan seorang pengemudi ojek. Lalu penagih menyebarkan fotonya, dengan huruf merah, ke semua kontak di ponselnya. Sabtu pagi, kata mereka, giliran Papa dan Mama.
Novelet tentang judi online, pinjaman ilegal, dan tiga sahabat yang tidak mau keluar dari grup, berjalan bersama kisah Daniel dan sahabat-sahabatnya di Babel. Dilengkapi Ruang Diskusi, tanda-tanda mulai terjerat, dan nomor layanan bantuan.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 29.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Rp 29.000
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Ponsel di saku dada Ken bergetar untuk kesebelas kalinya pada saat ember lumpur itu sampai di ambang pintu laundry.
Ia tidak berhenti. Ia menumpahkan isi ember ke got di depan ruko, lumpur cokelat yang kental dengan serpihan plastik dan sebuah kancing baju yang entah milik siapa, lalu berbalik dan masuk lagi. Celananya ia gulung sampai lutut. Sandalnya sudah tidak kelihatan warnanya. Di dalam laundry Bu Ter, Galih menyekop lumpur ke ember-ember berikutnya dengan sekop pinjaman dari tukang bangunan di ujung jalan, tanpa bicara, dengan ritme yang sama seperti orang mencangkul.
Getar itu berhenti. Lalu datang lagi, pendek, dua kali. Notifikasi, bukan telepon.
Ken tahu bunyi masing-masing tanpa melihat. Getar panjang yang berulang: penagih. Getar pendek dua kali: aplikasi pinjaman. Getar pendek sekali, dengan dengung kecil di ujungnya: aplikasi yang satu lagi, yang lambangnya berupa koin emas, yang mengirim pesan seperti Bos, bonus deposit hari ini aja! dan KENZO77, saldo kamu nunggu nih*.