
Kisah Yehezkiel. Seorang imam yang tidak pernah melayani di bait, langit yang terbuka di tepi sungai Kebar, dan sebuah lembah penuh tulang yang mendengar firman.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesPada tahun kelima pembuangan, di tepi sungai Kebar di negeri Babel, langit terbuka di atas seorang imam muda yang tidak akan pernah melayani di bait. Ia melihat kemuliaan TUHAN datang dari utara, di atas roda-roda yang dapat bergerak ke segala arah tanpa berbelok. Kemuliaan itu datang kepadanya di Babel, jauh dari Yerusalem.
Tulang-Tulang Kering menceritakan hidup Yehezkiel dan orang-orang buangan di Tel-Abib: istrinya yang diam-diam memungut rambut yang ia cukur dengan pisau, tetangga yang menonton nabi berbaring berbulan-bulan pada satu sisi, tua-tua yang datang duduk di depannya dan pulang tanpa berubah, orang yang luput dari Yerusalem dan membawa kabar bahwa kota itu sudah jatuh. Di tengahnya, istri nabi itu, kesukaan matanya, meninggal pada suatu sore, dan ia tidak boleh berkabung.
Dan sesudah kota itu jatuh, firman yang datang berubah: gembala yang mencari domba yang hilang, hati yang baru, lembah penuh tulang yang bergerak dan bertemu satu sama lain, sungai yang keluar dari bawah ambang bait dan makin dalam, dan nama kota yang baru: TUHAN hadir di situ.
Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Langit terbuka, dan aku melihat penglihatan-penglihatan tentang Allah. (Yehezkiel 1:1)
Pada tahun ia berumur tiga puluh, Yehezkiel anak Busi seharusnya mulai melayani di rumah TUHAN.
Begitulah aturannya, sejak zaman Musa. Anak-anak laki-laki keluarga imam dibesarkan dengan Taurat dan dengan cerita tentang bait, mereka belajar mencuci tangan dengan cara yang benar, belajar membedakan yang kudus dari yang biasa, yang tahir dari yang najis, belajar nama setiap perkakas di pelataran dan cara memegangnya. Lalu pada tahun mereka genap tiga puluh, mereka naik ke Yerusalem, mengenakan pakaian lenan, dan untuk pertama kalinya berdiri di depan mezbah.
Yehezkiel sudah belajar semua itu. Ia belajar di Yerusalem, sebagai anak, di bawah bayang-bayang rumah TUHAN, dari ayahnya dan dari imam-imam tua yang mengajarnya menghafal ukuran-ukuran pelataran dan urutan korban-korban. Ia tahu di mana letak setiap pintu gerbang. Ia tahu bunyi pintu-pintu kayu yang berlapis emas ketika dibuka pada pagi hari. Ia tahu bau ukupan di ruang kudus, walaupun ia belum pernah masuk ke sana; ia mencium baunya dari pelataran, ketika angin bertiup ke arahnya.
Bagian I: Di Tepi Sungai Kebar
Langit TerbukaBab 1 · 10 menitGratisBagian II: Anak Manusia
Barang-Barang BuanganBab 5 · 14 menitBagian III: Kota Itu Sudah Jatuh
Seorang yang LuputBab 8 · 13 menit