
Seri Kitab Puisi, Buku 2. Nasihat seorang ayah di atap rumah, pertanyaan seorang tua tentang hidup di bawah matahari, dan nyanyian seorang gadis penjaga kebun anggur.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesSeorang juru tulis istana duduk bersama anaknya di atap rumah pada malam hari dan berkata: hai anakku, dengarkanlah. Lebih dari dua abad kemudian, seorang juru tulis tua menyalin amsal-amsal lama yang rapuh sementara tentara Asyur berkemah di dekat kota. Seorang peternak kambing bernama Agur berdoa supaya ia tidak diberi kemiskinan atau kekayaan. Seorang ibu mengajar anaknya yang akan menjadi raja.
Lalu seorang tua yang sudah mencoba segala sesuatu di bawah matahari berkata: sia-sia, semuanya seperti menjaring angin. Muridnya mencatat kata-kata gurunya yang muram dan hangat sekaligus: makanlah rotimu dengan sukacita, berdua lebih baik daripada seorang diri, segala sesuatu indah pada waktunya, ingatlah Penciptamu pada masa mudamu.
Dan sesudah itu sebuah nyanyian: seorang gadis yang kulitnya gelap terbakar matahari karena disuruh menjaga kebun anggur saudara-saudaranya, seorang gembala yang memanggilnya karena musim dingin sudah lewat, dan kalimat yang paling kuat di seluruh kitab: cinta kuat seperti maut, air yang banyak tidak dapat memadamkannya.
Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Jagalah hatimu lebih dari segala yang kaujaga, sebab dari situlah mengalir kehidupan. (Amsal 4:23)
Ayahnya pulang dari istana selalu dengan jari-jari yang hitam.
Anak itu mengenal bunyi langkahnya di lorong sebelum pintu dibuka: langkah yang tidak tergesa-gesa, sedikit diseret pada kaki kiri, dan berhenti sebentar di ambang pintu ketika ayahnya membungkuk untuk membuka tali kasutnya. Lalu ayahnya masuk, dan hal pertama yang ia lakukan adalah mencuci tangan di bejana dekat pintu, lama sekali, menggosok sela-sela jari dengan abu dan air. Jelaga dan getah tinta tidak pernah hilang sama sekali. Ujung jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya hitam keabu-abuan seperti tanah sesudah hujan, dan ada lekuk kecil pada jari tengahnya, tempat buluh tulis menekan setiap hari selama bertahun-tahun.
Bagian I: Hai Anakku
Permulaan PengetahuanBab 1 · 12 menitGratisBagian II: Di Bawah Matahari
Menjaring AnginBab 6 · 13 menitBagian III: Kebun Anggur
Kebun Anggurku SendiriBab 10 · 13 menit