
Seri Kitab Puisi, Buku 1. Seorang gembala yang memandang bintang, seorang buronan di dalam gua, dan orang-orang di balik nyanyian-nyanyian Kitab Mazmur.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesKitab Mazmur bukan kisah. Isinya seratus lima puluh nyanyian dan doa: syukur dan ratapan, pengakuan dosa, kerinduan, pertanyaan sampai kapan, dan pujian. Tetapi di balik setiap nyanyian ada seseorang.
Nyanyian di Dalam Gua menceritakan orang-orang itu. Seorang anak gembala di padang Betlehem yang bertanya apakah manusia itu sehingga Allah mengingatnya. Seorang laki-laki yang berutang di gua Adulam, yang mendengar Daud berdoa sendirian di mulut gua. Penjaga pintu gerbang Gat. Pemimpin biduan yang harus mengajarkan pengakuan dosa raja kepada para penyanyi. Asaf yang hampir tergelincir karena iri. Penyanyi bani Korah yang merindukan rumah Allah seperti rusa merindukan air. Heman, yang doanya berakhir dalam gelap. Musa tua yang belajar menghitung hari. Satu keluarga yang mendaki ke Yerusalem sambil menyanyikan nyanyian ziarah, dan seorang pemain kecapi di tepi sungai-sungai Babel.
Dan di akhirnya, seorang juru tulis yang menyusun semua nyanyian itu menjadi satu kitab dan menutupnya dengan satu kalimat: biarlah segala yang bernapas memuji TUHAN.
Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Kepada-Mu aku berseru, ya TUHAN. Aku berkata: Engkaulah tempat aku berlindung, Engkaulah bagianku di negeri orang-orang yang hidup. (Mazmur 142:6)
Anak bungsu selalu yang ditinggal menjaga domba.
Daud tidak keberatan. Kakak-kakaknya yang tujuh orang itu sudah besar dan bersuara berat, dan kalau mereka di rumah, rumah ayahnya di Betlehem terasa terlalu sempit untuk satu anak laki-laki lagi. Di padang tidak ada yang menyuruhnya diam. Di padang hanya ada domba-domba Isai, rumput yang menguning di lereng-lereng bukit, batu-batu yang hangat pada siang hari dan dingin pada malam hari, dan langit.
Pada malam pertama ia ditinggal sendirian dengan kawanan, waktu umurnya belum genap sepuluh tahun, ia tidak bisa tidur karena takut. Ia mendengar bunyi-bunyi yang tidak ia kenal: sesuatu bergerak di semak-semak, seekor burung malam berseru dari arah lembah, angin menggesek rumput kering seperti orang berbisik. Ia duduk dengan punggung menempel pada dinding batu kandang, tongkatnya di pangkuan, dan memandang ke atas karena tidak berani memandang ke tempat lain.
Bagian I: Nyanyian Daud
Apakah ManusiaBab 1 · 10 menitGratisBagian II: Para Penyanyi
Hampir TergelincirBab 6 · 13 menitBagian III: Nyanyian Ziarah
Aku Melayangkan MatakuBab 10 · 14 menit