
Seri Kejadian, Buku 4. Dari jubah yang dirobek sampai sebuah peti di Mesir.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 49.000
Masuk untuk membuka aksesIa berumur tujuh belas tahun, anak kesayangan ayahnya, dan ia bermimpi bahwa kakak-kakaknya sujud kepadanya. Ia menceritakannya. Tidak lama kemudian kakak-kakaknya melemparkannya ke sumur kering, menjualnya seharga dua puluh syikal perak, dan membawa pulang jubahnya yang dicelup darah kambing.
Di Mesir, Yusuf menjadi budak, lalu tahanan, lalu orang yang dilupakan. Allah hampir tidak berbicara sepatah kata pun kepadanya. Kejadian hanya berkata: TUHAN menyertai Yusuf. Dua puluh tahun kemudian, kakak-kakaknya datang membeli gandum, sujud dengan muka ke tanah di hadapan seorang penguasa Mesir, dan tidak mengenalinya.
Tukang Mimpi menceritakan ulang Kejadian 37 sampai 50 lewat mata Yusuf, Ruben, Tamar, seorang juru minuman yang lupa, Asnat, Benyamin, dan Yehuda, kakak yang dulu berkata "mari kita jual dia" dan kelak menawarkan dirinya menjadi budak menggantikan adik bungsunya. Sampai kalimat terakhir yang menjadi kunci seluruh Kitab Kejadian: kamu bermaksud jahat, tetapi Allah bermaksud baik.
Buku keempat dan terakhir Seri Kejadian. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 49.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Itu dia, si tukang mimpi, sedang datang. (Kejadian 37:19)
Ia ingat suaranya. Ia ingat tangan yang memegang kepalanya dan bau minyak di rambut perempuan itu. Ia ingat satu perjalanan yang panjang, dan sebuah malam di jalan ke Efrata ketika semua orang dewasa tiba-tiba berhenti berbicara, dan bayi yang menangis di tenda yang terlalu ramai, dan ayahnya yang keluar dari tenda itu dengan wajah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dan tidak pernah ia lihat lagi sesudahnya. Lalu batu-batu yang ditumpuk di pinggir jalan. Ayahnya menumpuknya sendiri, satu per satu, dan tidak mengizinkan siapa pun membantu.
Wajah ibunya sudah lama hilang. Yang tinggal hanya tugu di pinggir jalan itu, dan adiknya, Benyamin, yang tumbuh dengan mata yang kata orang-orang tua persis mata ibu mereka.
Bagian I: Sumur
JubahBab 1 · 10 menitGratisBagian II: Mesir
Pakaian yang TertinggalBab 4 · 13 menitBagian III: Gandum
Mereka SujudBab 8 · 13 menit