
Seri Kisah Para Rasul, Buku 1. Mereka ditangkap, dipukul, dilarang berbicara, dan keesokan harinya kembali ke serambi yang sama.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesBeberapa minggu sesudah Ia disalibkan, murid-murid-Nya berdiri di serambi bait Allah yang sama, di depan Mahkamah Agama yang sama, dan berkata: kami tidak mungkin tidak berbicara tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.
Tidak Mungkin Kami Diam menceritakan jemaat pertama dari Yerusalem sampai Antiokhia, dari mata orang-orang yang ada di sana. Orang yang lumpuh sejak lahir di Gerbang Indah. Barnabas yang menjual ladangnya. Gamaliel yang berkata: jika ini dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkannya. Seorang janda yang dilewati dalam pembagian roti. Seorang yang ikut melempari Stefanus. Simon dari Samaria yang ingin membeli karunia Allah. Pejabat dari Etiopia yang bertanya: apakah halangannya aku dibaptis? Seorang pengawal yang berjalan bersama Saulus ke Damsyik. Ananias yang berkata: Saulus, saudaraku. Kornelius sang perwira. Dan Rode, yang terlalu gembira sampai lupa membuka pintu.
Buku pertama Seri Kisah Para Rasul, lanjutan Seri Injil. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Kami tidak mungkin berdiam diri tentang apa yang telah kami lihat dengan mata kami dan kami dengar dengan telinga kami. (Kisah Para Rasul 4:20)
Itu bukan kepandaian yang ia pilih. Seorang laki-laki yang duduk di tanah sejak pagi sampai petang, di samping pintu gerbang yang tinggi, dengan kepala yang lebih rendah dari pinggang setiap orang yang lewat, lama-lama belajar membaca apa yang ada di depan matanya. Dan yang ada di depan matanya adalah kaki. Ribuan kaki setiap hari, di atas batu-batu yang licin oleh langkah.
Ia tahu kaki para imam: telanjang, bersih, dicuci di bejana pembasuhan, berjalan cepat karena giliran mereka sudah menunggu. Ia tahu sandal kulit yang mahal dengan tali yang diwarnai, milik orang-orang kaya dari kota atas, yang melangkah lebar dan tidak pernah melambat di dekatnya. Ia tahu kaki para peziarah dari jauh, berdebu sampai ke betis, dengan kuku yang pecah dan sandal yang diikat ulang dengan tali rami, dan ia tahu bahwa kaki-kaki seperti itulah yang paling sering berhenti. Ia tahu kaki anak-anak yang berlari dan kaki perempuan tua yang menyeret, dan kaki seorang janda yang setiap pagi berhenti di depannya, menunduk, dan meletakkan sepotong roti kering di atas tikarnya tanpa berkata apa-apa, sebelum ia sendiri meminta sedekah di gerbang yang lain.
Bagian I: Di Serambi Salomo
Emas dan Perak Tidak Ada PadakuBab 1 · 15 menitGratisBagian II: Stefanus
Tujuh OrangBab 5 · 15 menitBagian III: Di Jalan ke Damsyik
Mengapa Engkau Menganiaya Aku?Bab 9 · 15 menit