
Seri Surat-Surat, Buku 10. Seorang rasul tua di pulau pembuangan, tujuh jemaat di seberang laut, dan kitab yang berakhir dengan kata: datanglah.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesYohanes sudah tua ketika ia dibuang ke Patmos, pulau berbatu di tengah laut, karena tidak berhenti bersaksi tentang Yesus. Di seberang laut, tujuh jemaat sedang bergumul: ada yang kehilangan kasih yang semula, ada yang miskin dan dianiaya, ada yang lemah dan kecil, ada yang kaya dan suam-suam kuku. Pada hari Tuhan, Yohanes mendengar suara di belakangnya dan rebah seperti orang mati, lalu sebuah tangan diletakkan di atasnya: jangan takut.
Ia menulis kepada ketujuh jemaat itu, dan ia menulis apa yang ia lihat: takhta, nyanyian kudus, kudus, kudus, Anak Domba, orang banyak dari segala bangsa yang tidak terhitung, dan akhirnya kota yang turun dari surga, tempat Allah menghapus segala air mata. Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru.
Segala Sesuatu Baru menceritakan kitab Wahyu dari mata seorang pemuda tahanan di Patmos, Yohanes sendiri, dan orang-orang di Efesus, Smirna, Pergamus, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia. Lambang-lambangnya tidak ditafsirkan; yang ditonjolkan adalah penghiburan dan pengharapan. Buku kesepuluh Seri Surat-Surat dan penutup kisah Perjanjian Baru. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Aku, Yohanes, saudaramu, yang bersama-sama dengan kamu menanggung kesusahan, mengambil bagian dalam Kerajaan, dan bertekun menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos karena firman Allah dan karena kesaksian tentang Yesus. (Wahyu 1:9)
Di pulau itu angin tidak pernah benar-benar berhenti, dan pemuda itu sudah berhenti menunggunya berhenti.
Angin datang dari utara hampir sepanjang musim, menyapu punggung-punggung bukit yang gundul dan menekan semak-semak berduri sampai rata dengan tanah. Angin itu masuk ke celah dinding gubuk, ke lipatan tunik, ke dalam roti. Kalau pemuda itu menggigit roti jelai jatahnya, ada pasir di antara giginya.
Pulau itu kecil. Ia mengetahuinya pada hari pertama, ketika penjaga menyuruh para tahanan baru mendaki bukit di belakang tambang, supaya tidak ada yang bermimpi lari. Dari puncak bukit itu ia melihat laut di semua arah. Pulau-pulau lain kelihatan seperti punggung binatang yang tidur di kejauhan. Di bawahnya, pulau itu sendiri berliku-liku seperti tulang yang dilempar ke air, penuh teluk dan batu, dengan sebuah kota kecil di leher pulau, dan di sisi teluk tempat ia akan tinggal, sebuah luka putih di lereng: tambang.
Bagian I: Di Pulau yang Bernama Patmos
Pada Hari TuhanBab 1 · 15 menitGratisBagian II: Kepada Ketujuh Jemaat
Kasih yang SemulaBab 3 · 13 menitGratisBagian III: Takhta dan Anak Domba
Sebuah Pintu Terbuka di SurgaBab 9 · 15 menitBagian IV: Langit yang Baru dan Bumi yang Baru
Tidak Akan Ada Lagi Ratap TangisBab 12 · 14 menit