
Seri Surat-Surat, Buku 11. Seorang perempuan dari Kengkrea membawa surat panjang ke kota yang belum pernah ia lihat, kepada orang-orang yang makan di dua meja.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesFebe dari Kengkrea tiba di Roma dengan tabung kulit berisi surat dari Paulus dan sederet nama yang ia hafal dengan jari-jarinya. Di ruang belakang bengkel kemah Priskila dan Akwila berkumpul tukang, budak, bekas budak, orang Yahudi yang baru pulang dari pengusiran, dan orang-orang Yunani yang selama itu memimpin perkumpulan. Mereka makan di dua meja dan saling memandang dengan curiga.
Surat itu dibacakan malam demi malam: semua orang telah berbuat dosa dan dibenarkan dengan cuma-cuma; tidak ada penghukuman; seluruh makhluk mengeluh menantikan; kamu cabang liar yang dicangkokkan, bukan kamu yang menopang akar; terimalah satu sama lain. Dan di tengahnya kalimat yang dihafal oleh semua orang yang pernah takut: tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah.
Tidak Ada yang Dapat Memisahkan menceritakan surat Roma dari mata Febe, Priskila, Akwila, Ampliatus, Andronikus dan Yunias, Urbanus, Trifosa, Hermas, Persis, Rufus dan ibunya, orang-orang yang disebut namanya di Roma 16. Buku kesebelas Seri Surat-Surat. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Aku tidak malu memberitakan kabar baik ini, karena kabar baik itu adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. (Roma 1:16)
Di muara sungai itu Febe mencoba menghitung kapal, dan berhenti sebelum selesai.
Di Kengkrea ia bisa berdiri di jendela rumahnya pada pagi hari dan tahu berapa kapal yang merapat semalam, dari mana datangnya, dan kira-kira apa muatannya. Tetapi di pelabuhan ini kapal-kapal berdiri berlapis-lapis, tiang di belakang tiang, seperti hutan yang daun-daunnya sudah dirontokkan angin, dan di dermaga orang-orang memikul karung gandum dalam barisan yang tidak putus, satu karung untuk satu punggung. Febe menghitung sampai jari-jarinya habis dua kali, lalu melihat dermaga yang berikutnya, dan menurunkan tangannya.
Bagian I: Kabar dari Kengkrea
Nama-NamaBab 1 · 15 menitGratisBagian II: Tidak Ada Penghukuman
Yang Tidak KukehendakiBab 5 · 13 menitBagian III: Akar yang Menopang
Dukacita yang BesarBab 8 · 15 menitBagian IV: Terimalah Satu Sama Lain
Persembahan yang HidupBab 10 · 13 menit