
Seri Surat-Surat, Buku 9. Dua meja di Antiokhia, jemaat-jemaat muda yang diberi tahu mereka belum cukup, dan surat Paulus yang ditulis dengan huruf-huruf besar.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesDi Antiokhia orang Yahudi dan orang Yunani yang percaya makan di meja yang sama, sampai suatu hari Petrus dan Barnabas pindah ke meja lain. Di Listra, Timotius yang remaja, anak seorang ibu Yahudi dan ayah Yunani, mendengar dari guru-guru yang saleh dan ramah bahwa ia baru setengah anak Abraham. Orang yang dulu lumpuh berjalan jauh ke Antiokhia membawa kabar itu kepada Paulus.
Paulus menulis dengan marah dan dengan kasih: Kristus telah memerdekakan kita; tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, karena kamu semua satu di dalam Kristus; yang penting ialah iman yang bekerja oleh kasih; dan buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Buah Roh menceritakan surat Galatia dari mata seorang tukang roti di Antiokhia, Barnabas, Timotius, orang yang dulu lumpuh, Titus, Eunike, Lois, seorang penenun di Ikonium, seorang laki-laki di Derbe, dan salah seorang guru dari Yudea. Buku kesembilan Seri Surat-Surat. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada lagi hamba atau orang merdeka, tidak ada lagi laki-laki atau perempuan, sebab kamu semua sudah menjadi satu di dalam Kristus Yesus. (Galatia 3:28)
Tungku itu bangun sebelum kota bangun, dan tukang roti bangun sebelum tungku.
Ia tidak membutuhkan ayam untuk membangunkannya. Tubuhnya sudah tahu waktunya, seperti tubuh ayahnya dulu, dan tubuh kakeknya. Ia membuka mata dalam gelap, mendengar sungai Orontes mengalir di kejauhan, mendengar seekor anjing menggonggong dua kali di ujung lorong lalu diam, dan ia sudah duduk di atas tikarnya sebelum ia sempat memutuskan untuk duduk. Dinding di samping kepalanya masih hangat. Dinding itu dinding belakang tungku, dan sepanjang hidupnya ia tidur bersandar padanya, dan sepanjang hidupnya ia tidak pernah kedinginan.
Bagian I: Dua Meja
Meja yang SamaBab 1 · 15 menitGratisBagian II: Huruf-Huruf yang Besar
Heran AkuBab 5 · 14 menitBagian III: Untuk Kemerdekaan
Iman yang Bekerja oleh KasihBab 9 · 14 menit