
Seri Surat-Surat, Buku 8. Jemaat yang ditinggal guru-gurunya setelah beberapa minggu, seorang yang meninggal terlalu cepat, dan surat yang berkata: jangan berdukacita seperti yang tidak berpengharapan.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesMereka baru beberapa minggu percaya ketika Paulus dan Silas harus lari dari Tesalonika pada malam hari. Yason membayar jaminan, dan jaminan itu ikut menutup jalan Paulus untuk kembali. Mereka berpaling dari dewa-dewa yang disembah keluarga mereka turun-temurun, dan keluarga mereka tidak mengerti. Lalu seorang di antara mereka meninggal, dan istrinya bertanya: kalau Tuhan datang besok, apakah suamiku ketinggalan?
Timotius yang muda membawa pertanyaan itu ke Korintus. Surat datang kembali: kami tidak mau kamu berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan; kamu semua adalah anak-anak terang; hiburkanlah seorang akan yang lain. Kemudian datang kabar membingungkan bahwa hari Tuhan sudah tiba, dan sebagian orang berhenti bekerja. Surat kedua menyusul, dengan salam yang ditulis Paulus dengan tangannya sendiri.
Anak-Anak Terang menceritakan kedua surat Tesalonika dari mata Yason, seorang perempuan yang berpaling dari berhala, Timotius, seorang janda, Silas, buruh pelabuhan, seorang pemuda yang tawar hati, dan seorang pemuda yang berhenti bekerja. Buku kedelapan Seri Surat-Surat. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah, untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari surga. (1 Tesalonika 1:9-10)
Palang yang baru itu lebih pucat daripada pintunya.
Setiap pagi Yason melihatnya, sebelum hamba-hambanya bangun, ketika ia sendiri yang mengangkatnya dari pengait-pengaitnya seperti yang sudah ia lakukan bertahun-tahun. Kayu ek pintu itu sudah hitam oleh umur, oleh asap pelita dan tangan-tangan dan udara laut yang asin, dan paku-paku tembaganya sudah lama kehilangan kilaunya. Palang itu masih berwarna seperti roti yang baru dipanggang. Di satu ujungnya masih ada bekas pahat yang meleset, tempat ia melukai ibu jarinya sendiri, dan ibu jari itu masih berbalut kain ketika ia menyandarkan palang itu ke dinding dan membuka kedua daun pintu ke arah jalan.
Bagian I: Yang Ditinggalkan
JaminanBab 1 · 15 menitGratisBagian II: Surat dari Korintus
Kabar BaikBab 5 · 15 menitBagian III: Bersukacitalah Senantiasa
Hiburlah yang Tawar HatiBab 9 · 15 menitBagian IV: Jangan Jemu-Jemu Berbuat Baik
Surat KeduaBab 11 · 13 menit