
Seri Surat-Surat, Buku 7. Sebuah jemaat yang lelah, bangku-bangku yang mulai kosong, dan surat panjang dari seorang guru yang tidak menulis namanya.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesMereka orang Yahudi di Roma yang percaya kepada Mesias Yesus. Dulu mereka diusir dari kota itu, kembali, dan kehilangan harta dengan sukacita. Sekarang mereka lelah. Bangku-bangku di rumah tempat mereka berkumpul mulai kosong; rumah ibadat lebih tenang, keluarga lebih hangat, dan anak laki-laki bapa tua itu sendiri tidak datang lagi.
Lalu datang sebuah surat panjang dari guru yang dulu tinggal bersama mereka, tanpa nama di awalnya. Surat itu dibacakan malam demi malam: jangan hanyut; hari ini, jangan keraskan hatimu; kita mempunyai Imam Besar yang turut merasakan kelemahan kita; pengharapan itu sauh bagi jiwa; lihatlah awan saksi yang begitu banyak; di sini kita tidak mempunyai kota yang tetap.
Awan Saksi menceritakan surat Ibrani dari mata seorang bapa tua, anaknya yang hanyut, istrinya, seorang janda, bekas guru rumah ibadat, seorang peziarah, ibu muda, pemuda pelari, menantu yang ragu, dan penulis surat yang tidak bernama. Buku ketujuh Seri Surat-Surat. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Dahulu kala, berulang-ulang dan dengan berbagai cara, Allah berbicara kepada nenek moyang kita melalui para nabi. Pada hari-hari terakhir ini Ia telah berbicara kepada kita melalui Anak-Nya. (Ibrani 1:1-2)
Bau kulit selalu bangun lebih dulu daripada dia.
Bau itu tinggal di dalam dinding bata rumahnya, di dalam papan-papan rak, di dalam serat jubahnya, dan setiap pagi, ketika ia menurunkan kaki dari balai-balai dan meraba lantai dengan telapak yang sudah tua, bau itu sudah menunggunya di dalam gelap: kulit kambing yang sudah disamak, minyak yang digosokkan ke kulit supaya lemas, lilin lebah untuk benang. Istrinya berkata bahwa ia sendiri sudah berbau seperti sandal. Ia tidak membantah. Ayahnya juga berbau begitu, dan kakeknya.
Bagian I: Jangan Hanyut
Lorong di Seberang SungaiBab 1 · 15 menitGratisBagian II: Sauh bagi Jiwa
Susu dan Makanan KerasBab 5 · 15 menitBagian III: Oleh Iman
Orang Asing dan PendatangBab 8 · 15 menit