
Seri Surat-Surat, Buku 6. Murid terakhir yang pernah meraba Tuhan dengan tangannya, jemaat yang terbelah, dan satu kalimat yang ia ulang sampai akhir.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesYohanes dulu bersandar di dada Gurunya pada malam terakhir. Puluhan tahun kemudian, di Efesus, ia satu-satunya yang tersisa dari mereka yang melihat, mendengar, dan meraba. Jemaatnya terbelah: ada yang keluar dan mengajarkan bahwa Tuhan hanya tampak seperti manusia, tidak sungguh berdaging. Suami meninggalkan bangku istrinya, cucu meninggalkan kakeknya.
Yohanes yang tua menulis tentang tangan yang meraba, tentang terang dan gelap, tentang anak-anak Allah. Ia menulis kepada seorang ibu dan anak-anaknya, dan kepada Gayus yang membuka rumahnya ketika Diotrefes menutup pintu. Dan ketika ia sudah terlalu tua untuk berjalan, ia hanya berkata satu kalimat: anak-anakku, kasihilah seorang akan yang lain.
Allah Adalah Kasih menceritakan ketiga surat Yohanes dari mata seorang pemuda yang melayaninya, seorang istri yang suaminya keluar, juru tulis, seorang bapa tua, tukang celup, pemuda yang ragu, Yohanes sendiri, Ibu yang terpilih dan anak perempuannya, seorang saudara pengembara, Diotrefes, dan Demetrius. Buku keenam Seri Surat-Surat. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Yang sudah ada sejak semula, yang sudah kami dengar, yang sudah kami lihat dengan mata kami, yang sudah kami pandang dan yang sudah kami raba dengan tangan kami, itulah yang kami beritakan kepadamu tentang Firman hidup. (1 Yohanes 1:1)
Pemuda itu selalu bangun sebelum burung-burung di pohon zaitun di halaman, dan itu bukan karena ia rajin, melainkan karena orang tua itu batuk.
Batuknya kecil dan kering, seperti bunyi ranting yang dipatahkan di dalam kain, dan datang dari ruang depan, tempat orang tua itu tidur di atas balai-balai rendah. Pemuda itu sudah mendengarnya sejak ia masih anak kecil yang tidur di bilik sempit di belakang, di antara kendi-kendi minyak dan karung-karung jelai, dan sekarang ia harus menunduk setiap kali keluar dari bilik itu, dan batuk itu masih membangunkannya, setiap pagi, sebelum terang.
Bagian I: Yang Kami Raba
Murid yang TerakhirBab 1 · 15 menitGratisBagian II: Dengan Perbuatan
Kain dan HabelBab 5 · 15 menitBagian III: Ibu yang Terpilih
Kepada Ibu yang TerpilihBab 9 · 13 menit