
Seri Injil, Buku 1. Seorang imam tua yang menjadi bisu, seorang gadis di Nazaret yang berkata jadilah padaku, dan sebuah palungan di Betlehem.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesEmpat ratus tahun sesudah nabi yang terakhir, seorang imam tua masuk ke tempat kudus untuk membakar ukupan, sekali seumur hidup karena undian, dan keluar tanpa bisa berbicara. Ia baru saja mendengar kalimat terakhir kitab nabi-nabi diucapkan tentang anaknya sendiri: anak itu akan datang dengan roh dan kuasa Elia.
Tidak Ada Tempat bagi Mereka menceritakan kelahiran Yesus dari mata orang-orang di sekitar-Nya. Elisabet yang hidup bersama suami yang bisu. Maria di Nazaret, yang berkata jadilah padaku. Yusuf, yang memutuskan untuk tidak mempermalukan tunangannya. Seorang perempuan di Betlehem yang rumahnya penuh. Seorang gembala muda di padang, tempat raja Daud dulu menggembalakan domba. Simeon dan Hana di pelataran bait Allah. Orang-orang dari timur yang membaca bintang, seorang ahli Taurat yang dipanggil raja yang ketakutan, dan seorang nenek yang berduka di Betlehem.
Wajah Yesus sengaja tidak digambarkan. Ia dilihat sebagaimana mereka melihat-Nya: tangan kecil di dalam lampin, berat tubuh di tangan seorang tua, suara seorang anak berumur dua belas tahun di bait Allah.
Bisa dibaca sendiri, dan sangat cocok untuk menemani masa Adven.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Ia akan berjalan di depan Tuhan dengan roh dan kuasa Elia, untuk membalikkan hati para bapa kepada anak-anak mereka. (Lukas 1:17)
Setiap kali tiba giliran rombongan Abia naik ke Yerusalem untuk melayani di rumah Allah, Zakharia ikut naik, dan setiap kali ia tidak terpilih.
Ia sudah terbiasa. Imam terlalu banyak dan tugas terlalu sedikit, dan undian yang menentukan siapa yang mengerjakan apa. Ada yang setiap hari diundi untuk membersihkan mezbah dari abu semalam. Ada yang diundi untuk menyembelih anak domba korban pagi. Ada yang diundi untuk membawa potongan-potongan korban ke mezbah, untuk menuang minyak, untuk menyiapkan kayu. Dan ada satu tugas yang paling dirindukan semua imam, karena seorang imam hanya boleh mendapatkannya sekali seumur hidup: masuk sendirian ke dalam tempat kudus, di balik tirai pertama, dan membakar ukupan di atas mezbah emas pada waktu umat berdoa di luar.
Bagian I: Sesudah Sunyi yang Panjang
Undian UkupanBab 1 · 12 menitGratisBagian II: Jadilah Padaku
NazaretBab 4 · 13 menitBagian III: Kabar Itu Sampai
Di PadangBab 7 · 15 menit