
Seri Ezra-Nehemia, Buku 1. Pulang ke kota yang hanya dikenal dari cerita, dan hari ketika sorak dan tangis tidak dapat dibedakan.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesLima puluh tahun sesudah Yerusalem dibakar, Koresh raja Persia mengizinkan orang buangan pulang. Tidak semua mau. Yang berangkat adalah mereka yang hatinya digerakkan Allah, menuju kota yang kebanyakan dari mereka hanya kenal dari cerita orang tua.
Sorak dan Tangis menceritakan ulang Kitab Ezra: seorang laki-laki tua yang hanya ingat Yerusalem sebagai asap, bendahara Persia yang menghitung piala dari rumah yang sudah tidak ada, anak muda yang namanya tidak ditemukan dalam daftar imam, dan hari ketika dasar bait diletakkan. Orang-orang muda bersorak. Orang-orang tua yang pernah melihat rumah yang pertama menangis. Dan orang tidak dapat membedakan bunyi yang satu dari yang lain.
Lalu pekerjaan terhenti bertahun-tahun, surat-surat dikirim ke istana Persia, dan seorang ahli kitab bernama Ezra berjalan dari Babel tanpa tentara, karena ia malu memintanya kepada raja. Buku ini berakhir di bawah hujan bulan kesembilan, dengan sebuah daftar nama dan kalimat terakhir kitab itu.
Buku pertama Seri Ezra-Nehemia. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Maka bangkitlah setiap orang yang hatinya telah dijamah Allah, untuk pulang dan membangun rumah TUHAN di Yerusalem. (Ezra 1:5)
Yang ia ingat dari Yerusalem hanya asap.
Ia berumur tujuh tahun ketika kota itu dibakar, dan ingatan seorang anak tujuh tahun tidak bisa dipercaya. Ia tahu itu. Ia sudah terlalu sering mendengar orang-orang tua bercerita tentang Yerusalem, tentang tembok-temboknya, tentang rumah TUHAN dengan dua tiang tembaga di depannya, tentang pelataran yang penuh orang pada hari raya, sampai ia tidak lagi tahu mana yang ia lihat sendiri dan mana yang ia dengar. Tetapi asap itu miliknya sendiri. Asap hitam yang naik dari arah bait, tebal dan pelan, seperti tiang, dan ibunya yang menarik tangannya begitu keras sampai bahunya sakit selama berhari-hari sesudahnya.
Bagian I: Pulang
Yang Hatinya DigerakkanBab 1 · 8 menitGratisBagian II: Dasar Rumah
Mezbah di Atas DasarnyaBab 4 · 13 menitBagian III: Ezra
Ahli Kitab yang MahirBab 9 · 12 menitBagian IV: Hujan Bulan Kesembilan
Duduk TertegunBab 11 · 13 menit