
Seri Injil, Buku 4. Di jalan menuju Yerusalem, Ia bercerita tentang seorang anak yang pulang, dan ayah yang berlari menyongsongnya selagi ia masih jauh.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesSesudah gunung itu, Ia mengarahkan langkah-Nya ke Yerusalem dan tidak berbelok lagi. Di sepanjang jalan, di kampung-kampung Samaria dan Yudea, di rumah orang Farisi dan di meja pemungut cukai, Ia bercerita tentang orang Samaria yang berhenti di pinggir jalan, domba yang hilang, dirham yang hilang, dan seorang anak yang pulang dengan kalimat yang sudah dihafalnya, lalu ayahnya berlari menyongsong dia selagi ia masih jauh.
Selagi Ia Masih Jauh menceritakan perjalanan Yesus ke Yerusalem dari mata orang-orang yang bertemu dengan-Nya. Seorang ayah yang berseru: aku percaya, tolonglah aku yang tidak percaya ini. Seorang ahli Taurat yang bertanya siapa sesamanya. Marta yang sibuk di dapur. Perempuan yang delapan belas tahun bungkuk. Farisi tua yang mendengar kisah anak yang hilang. Orang Samaria yang kembali untuk bersyukur. Orang muda kaya yang pergi dengan sedih. Maria di depan kubur saudaranya. Bartimeus di pinggir jalan. Zakheus di atas pohon. Dan Lazarus, yang duduk makan bersama-Nya di Betania enam hari sebelum Paskah.
Wajah Yesus sengaja tidak digambarkan. Ia dilihat sebagaimana mereka melihat-Nya.
Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Ketika sudah hampir tiba waktunya Ia diangkat ke surga, Ia meneguhkan hati-Nya dan mengarahkan langkah-Nya ke Yerusalem. (Lukas 9:51)
Laki-laki itu sudah lama tidak tidur nyenyak. Ia tidur seperti gembala tidur di padang, dengan satu telinga yang terjaga, dan telinga itu selalu menghadap ke tikar anaknya.
Anaknya tidur di sebelahnya, di dekat dinding yang jauh dari tungku. Begitu sejak dulu. Tungku di rumah mereka sudah dipagari batu setinggi lutut, dan tempayan air di sudut sudah ditutup papan yang diikat tali, dan sumur di halaman sudah diberi bibir yang tinggi, lebih tinggi dari bibir sumur mana pun di kampung itu. Semua orang di kampung di kaki gunung itu tahu mengapa.
Pada malam terakhir sebelum ia membawa anaknya turun, laki-laki itu terbangun karena bunyi yang ia kenal. Bunyi tubuh yang terbanting ke lantai tanah, lalu napas yang tersentak-sentak. Ia sudah bangun dan berlutut sebelum matanya terbuka penuh. Tangannya tahu apa yang harus dilakukan: menyingkirkan kendi dari dekat kepala anak itu, menyelipkan gulungan kain di bawah kepalanya, memegang bahunya supaya tidak membentur dinding, dan menunggu.
Bagian I: Menuju Yerusalem
Tolonglah AkuBab 1 · 15 menitGratisBagian II: Yang Hilang
Delapan Belas TahunBab 5 · 14 menitBagian III: Akulah Kebangkitan
Yang Seorang Itu KembaliBab 9 · 13 menit