
Seri Samuel, Buku 1. Seorang perempuan yang berdoa tanpa suara, seorang anak yang mendengar, dan seorang raja yang tidak.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesPada masa itu firman TUHAN jarang terdengar. Di Silo, seorang perempuan mandul bernama Hana berdoa sambil menangis, hanya bibirnya yang bergerak, dan imam tua Eli mengira ia mabuk. Setahun kemudian ia membawa seorang anak kecil ke bait TUHAN dan meninggalkannya di sana.
Sebelum Lampu Padam menceritakan ulang 1 Samuel 1 sampai 15: anak yang dipanggil TUHAN pada malam ketika lampu rumah Allah belum padam, tabut yang dirampas dan seorang bayi bernama Ikabod, patung Dagon yang tertelungkup, lembu-lembu yang melenguh membawa tabut pulang, dan batu yang dinamai Eben-Haezer: sampai di sini TUHAN menolong kita.
Lalu bangsa itu meminta raja seperti segala bangsa lain. Saul, orang muda yang mencari keledai ayahnya, yang bersembunyi di antara barang-barang ketika undian jatuh kepadanya, menjadi raja, dan kehilangan kerajaannya karena tidak sanggup menunggu dan tidak sanggup mendengar.
Buku pertama Seri Samuel. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Sebelum lampu Allah padam, ketika Samuel berbaring di bait TUHAN, di dekat tabut Allah, TUHAN memanggil Samuel. (1 Samuel 3:3-4)
Setiap tahun, pada hari raya di Silo, Elkana membagi daging korban dengan tangannya sendiri, dan setiap tahun Hana tahu persis berapa potong yang akan jatuh ke piringnya.
Dua. Bagian ganda. Elkana meletakkannya di depannya dengan hati-hati, seperti orang meletakkan hadiah, dan memandanginya dengan mata yang meminta sesuatu yang tidak pernah bisa Hana berikan: senyum, barangkali. Tanda bahwa dua potong daging itu cukup.
Di seberang tikar, Penina menerima bagiannya, satu potong untuk dirinya dan satu untuk setiap anaknya, laki-laki dan perempuan, yang duduk berderet di sampingnya seperti anak-anak ayam di bawah sayap. Hana tidak pernah menghitung anak-anak itu. Ia tidak perlu. Ia tahu jumlahnya seperti ia tahu jumlah jarinya sendiri, dan setiap kali ada yang baru, ia tahu lebih dulu daripada siapa pun, karena Penina selalu memastikan ia tahu.
Bagian I: Silo
Doa Tanpa SuaraBab 1 · 7 menitGratisBagian II: Tabut
IkabodBab 5 · 13 menitBagian III: Raja
Seperti Segala Bangsa LainBab 9 · 12 menit