
Seri Kejadian, Buku 3. Dari tumit yang dipegang sampai nama yang diganti.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 49.000
Masuk untuk membuka aksesIa lahir sambil memegang tumit kakaknya, dan seumur hidupnya ia menang dengan cara yang salah. Ia membeli hak kesulungan dengan semangkuk masakan. Ia memakai kulit kambing dan berkata kepada ayahnya yang buta, "Akulah Esau." Lalu ia lari, dan di tengah pelariannya Allah justru menjumpainya: tangga sampai ke langit, dan janji yang tidak sepatah kata pun menyebut tipu dayanya.
Di Haran, si penipu ditipu dengan caranya sendiri: yang muda ditukar dengan yang sulung dalam gelap. Dua puluh tahun kemudian ia pulang membawa dua istri, sebelas anak, dan ketakutan yang tidak selesai kepada kakak yang dulu mau membunuhnya. Dan pada suatu malam, di tepi sungai Yabok, seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar.
Sang Penipu menceritakan ulang Kejadian 25 sampai 35 lewat mata Ribka yang menunggu, Esau yang menangis minta berkat, Lea yang tidak dicintai, Rahel yang menunggu, dan Yakub sendiri: laki-laki yang akhirnya menjawab pertanyaan "siapakah namamu?" dengan jujur, dan pulang dengan nama baru dan jalan yang pincang.
Buku ketiga Seri Kejadian. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 49.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Namamu tidak akan disebut lagi Yakub, melainkan Israel, sebab engkau telah bergumul dengan Allah dan dengan manusia, dan engkau menang. (Kejadian 32:28)
Pada tahun ketiga, Ribka berhenti menghitung bulan.
Bukan karena ia menyerah. Karena menghitung itu sendiri sudah menjadi semacam luka yang ia buka sendiri setiap kali bulan baru terbit di atas sumur Lahai-Roi, dan ia perempuan yang cukup keras untuk memutuskan berhenti melukai dirinya dengan cara yang tidak berguna. Ia menyimpan hitungannya di tempat ia menyimpan Haran, dan wajah ibunya, dan bunyi gelang-gelang di pergelangan tangannya pada hari ia berkata aku mau kepada orang-orang yang bertanya apakah ia bersedia pergi kepada laki-laki yang belum pernah ia lihat.
Bagian I: Tumit
Dua Bangsa dalam RahimBab 1 · 10 menitGratisBagian II: Tangga
Tangga ke LangitBab 6 · 12 menitBagian IV: Betel
DinaBab 15 · 12 menit