
Seri Hakim-Hakim, Buku 2. Ujung bawah sebuah lingkaran, dan Allah yang belum selesai.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesBuku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Sesudah Gideon wafat, anaknya dari Sikhem membunuh tujuh puluh saudaranya dan menjadikan dirinya raja. Hanya Yotam, si bungsu, yang lolos, dan dari puncak gunung Gerizim ia berseru tentang pohon-pohon yang mencari raja dan semak duri yang menawarkan naungan.
Rambut yang Tumbuh Lagi menceritakan ulang Hakim-Hakim 9 sampai 16: seorang perempuan di menara Tebes dengan batu kilangannya, Yefta anak perempuan sundal dan nazar yang keluar dari mulutnya, anak perempuannya yang menyongsong dengan rebana, kata Syibolet di tepi Yordan, dan Simson, nazir Allah sejak dari kandungan, yang hidup menurut apa yang baik di matanya sendiri.
Lalu di rumah penjara Gaza, di depan batu kilangan, dengan mata yang sudah dicungkil, rambut Simson mulai tumbuh lagi.
Buku kedua dan terakhir Seri Hakim-Hakim. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Kata semak duri kepada pohon-pohon: Jika kamu benar-benar mau menjadikan aku raja, datang dan bernaunglah di bawah bayanganku. (Hakim-Hakim 9:15)
Yotam selalu bisa menyebut nama semua kakaknya, dan malam itu, di dasar lubang anggur yang lama, ia menyebutnya satu per satu tanpa suara.
Yeter, yang sulung. Lalu yang lain, menurut urutan lahir, menurut rumah ibu masing-masing, seperti yang ia hafal sejak kecil, karena dialah yang selalu disuruh berlari memanggil mereka dari pintu ke pintu. Enam puluh sembilan nama. Ia menyebutnya sekali, lalu sekali lagi dari awal, dengan bibir yang bergerak di dalam gelap, dan setiap kali ia sampai di ujung, ia tidak tahu harus berbuat apa dengan nama-nama itu.
Di atasnya, di mulut lubang, semak yang tumbuh di sana bergoyang kena angin malam. Ia bisa mencium baunya. Ia bisa mencium bau tanah dan bau kulit anggur yang sudah puluhan tahun meresap ke batu, dan di bawah lututnya, di dasar lubang, ada lipatan bulu domba yang dulu ia sembunyikan di sana, kering, kaku, berbau debu.
Bagian I: Semak Duri
Perumpamaan Pohon-PohonBab 1 · 8 menitGratisBagian II: Mizpa
Anak Perempuan SundalBab 4 · 13 menitBagian III: Nazir
Pisau CukurBab 9 · 14 menit