
Seri Musa, Buku 4. Empat puluh tahun di padang gurun, dan sebuah negeri yang dilihat dari puncak Nebo.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesBuku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Awan di atas Kemah naik, dan bangsa itu berangkat dari Sinai ke negeri yang dijanjikan. Perjalanan yang seharusnya singkat menjadi empat puluh tahun, karena sepuluh dari dua belas pengintai pulang dengan berkata: di mata mereka kita seperti belalang.
Melihat dari Jauh menceritakan ulang Bilangan dan Ulangan: burung puyuh dan kubur orang yang bernafsu, Miryam tujuh hari di luar perkemahan, tongkat Harun yang bertunas, air Meriba dan batu yang dipukul dua kali, ular tembaga, keledai Bileam, dan lima anak perempuan yang berani meminta warisan.
Lalu di dataran Moab, seorang gembala tua berbicara untuk terakhir kalinya kepada kawanan yang tidak bisa lagi ia antar: dengarlah, hai Israel; pilihlah kehidupan. Dan ia naik ke gunung Nebo seorang diri, melihat negeri itu dari jauh, dan tidak turun lagi.
Buku keempat dan terakhir Seri Musa. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Bangkitlah, TUHAN, supaya musuh-Mu berserak. (Bilangan 10:35)
Hobab sudah tinggal hampir setahun di kaki gunung itu, dan ia masih belum terbiasa menunggu awan.
Di Midian, orang berangkat ketika rumput habis. Atau ketika air sumur menyusut. Atau ketika musim panas datang dan kawanan harus dibawa ke dataran tinggi. Ada seribu tanda di padang yang dibaca orang padang untuk tahu kapan pergi dan ke mana: warna langit di timur pada pagi hari, arah terbang burung puyuh, rasa tanah di ujung lidah, bau angin. Ayahnya, Rehuel, imam Midian, yang di perkemahan ini lebih dikenal dengan nama Yitro, mengajarinya membaca tanda-tanda itu sebelum ia bisa membaca apa pun yang lain.
Di perkemahan iparnya, orang berangkat ketika awan naik.
Bagian I: Berangkat
Jadilah Mata KamiBab 1 · 8 menitGratisBagian II: Padang Gurun
Seperti BelalangBab 4 · 14 menitBagian III: Moab
Keledai yang BerbicaraBab 9 · 13 menit