
Seri Samuel, Buku 2. Seorang anak gembala yang diurapi, seorang raja yang memburunya, dan seorang sahabat di antara keduanya.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesKetika nabi Samuel datang ke Betlehem, tujuh anak Isai berdiri berderet di halaman, dan tujuh kali nabi itu menggeleng. Yang dipilih TUHAN sedang menggembalakan domba di padang, karena tidak ada yang menganggapnya cukup penting untuk dipanggil pulang.
Lima Batu Licin menceritakan ulang 1 Samuel 16 sampai 31: kecapi di istana raja yang tersiksa, raksasa dari Gat dan lima batu dari dasar sungai, Yonatan yang memberikan jubah dan pedangnya, Mikhal di jendela, tiga anak panah di padang, gua En-Gedi dan punca jubah yang dipotong, Abigail di lereng gunung, dan seorang perempuan di En-Dor pada malam sebelum pertempuran terakhir.
Dua kali Daud punya kesempatan membunuh Saul, dan dua kali ia berkata: aku tidak akan menjamah orang yang diurapi TUHAN. Lalu di gunung Gilboa, raja itu jatuh bersama anak-anaknya, dan orang-orang dari sebuah kota kecil di seberang Yordan berjalan semalam-malaman untuk membalas budinya.
Buku kedua Seri Samuel. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Manusia memandang rupa yang tampak, tetapi TUHAN memandang sampai ke dalam hati. (1 Samuel 16:7)
Eliab selalu menjadi yang pertama, dan ia tidak pernah memikirkannya sampai pagi itu.
Ia anak sulung Isai. Ia yang pertama lahir, yang pertama berjalan, yang pertama memegang bajak, yang pertama dibawa ayahnya ke pintu gerbang Betlehem untuk duduk di antara laki-laki dewasa dan mendengarkan perkara. Ia yang tertinggi dari delapan bersaudara, setinggi pintu rumah, sehingga sejak umur lima belas ia harus menunduk setiap kali masuk. Kalau ada tamu, Eliab yang menyambut. Kalau ada daging, Eliab yang membagi sesudah ayahnya. Kalau orang Betlehem menyebut “anak Isai”, tanpa menyebut nama, yang mereka maksud adalah Eliab.
Bagian I: Betlehem
Yang Paling BungsuBab 1 · 7 menitGratisBagian II: Istana
JendelaBab 5 · 13 menitBagian III: Padang Gurun
Roti KudusBab 7 · 12 menit