
Kisah Yeremia. Anak muda yang tidak pandai berbicara, gulungan yang dibakar sepotong-sepotong, dan sebidang ladang yang dibeli ketika kota dikepung.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesDi bawah pohon badam di belakang rumah ayahnya di Anatot, seorang anak muda dari keluarga imam berkata bahwa ia tidak pandai berbicara, sebab ia masih muda. Sebuah tangan menjamah mulutnya dan menaruh firman di sana: untuk mencabut dan merobohkan, membinasakan dan meruntuhkan, membangun dan menanam. Empat puluh tahun kemudian, sebagian besar firman itu ternyata tentang mencabut.
Ladang di Anatot menceritakan hidup Yeremia dari mata orang-orang di sekitarnya: tukang periuk yang buli-bulinya dipecahkan di lembah, penjaga pasungan yang mendengar keluhan nabi pada malam hari, juru tulis Barukh yang menulis gulungan yang sama dua kali sesudah raja membakarnya, orang Rekhab yang menolak anggur, orang buangan di tepi sungai Kebar yang menerima surat tentang tujuh puluh tahun, sida-sida dari Etiopia yang membawa kain-kain bekas untuk menarik nabi dari perigi berlumpur.
Dan pada tahun Yerusalem dikepung, ketika semua orang tahu kota itu akan jatuh, Yeremia membeli sebidang ladang di Anatot dengan tujuh belas syikal perak, dan menyuruh suratnya disimpan di dalam bejana tanah liat supaya tahan lama. Buku ini berakhir dengan Kitab Ratapan: kasih setia TUHAN yang selalu baru tiap pagi, dan sebuah pertanyaan yang dibiarkan terbuka.
Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Hari ini Aku menempatkan engkau atas bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan: untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam. (Yeremia 1:10)
Pohon badam selalu berbunga lebih dulu daripada semua pohon lain di Anatot.
Yeremia sudah tahu itu sejak ia kecil. Setiap tahun, ketika bukit-bukit di sekitar desa masih cokelat dan kelabu sesudah musim dingin, ketika pohon ara masih telanjang dan pokok-pokok anggur masih seperti tongkat-tongkat kering yang ditancapkan ke tanah, pohon badam di belakang rumah ayahnya tiba-tiba berbunga. Putih dan merah muda, begitu banyak sehingga dahan-dahannya tampak seperti diselimuti salju yang hangat. Ia berbunga sebelum daunnya keluar. Ia berbunga sebelum ada yang menyangka musim sudah berubah.
Bagian I: Mencabut dan Menanam
Dahan Pohon BadamBab 1 · 10 menitGratisBagian II: Yoyakim
Tiga Empat LajurBab 5 · 14 menitBagian III: Pengepungan
Tujuh Belas SyikalBab 9 · 15 menit