
Kisah Rut. Dua janda di jalan pulang, sebuah ladang jelai, dan kesetiaan yang tidak diwajibkan siapa pun.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 39.000
Masuk untuk membuka aksesPada zaman para hakim, ketika setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri, ada kelaparan di Betlehem, kota yang namanya berarti rumah roti. Naomi pergi ke Moab bersama suami dan kedua anaknya, dan sepuluh tahun kemudian pulang tanpa mereka.
Ke Mana Engkau Pergi menceritakan ulang Kitab Rut seluruhnya: dua menantu dari Moab, satu yang mencium dan pulang, satu yang berpaut dan berkata: bangsamulah bangsaku, Allahmulah Allahku. Lalu ladang Boas, tempat seorang perempuan asing kebetulan memungut di belakang para penyabit, tempat pengirikan pada tengah malam, dan pintu gerbang kota tempat seorang laki-laki menanggalkan kasutnya.
Tidak ada mukjizat di kitab ini, tidak ada nabi, tidak ada suara dari langit. Hanya orang-orang biasa yang setia, dan seorang nenek yang akhirnya memangku cucu yang namanya kelak tercatat dalam silsilah seorang raja.
Bisa dibaca sendiri, dalam satu atau dua kali duduk.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 39.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Pada zaman para hakim memerintah, ada kelaparan di negeri itu. (Rut 1:1)
Nama kota itu Betlehem, yang artinya rumah roti, dan tahun itu tidak ada roti di dalamnya.
Naomi sudah lama tahu bahwa nama tidak menjamin apa-apa. Namanya sendiri berarti menyenangkan, dan ia tidak pernah merasa dirinya menyenangkan; ia perempuan yang terlalu cepat berbicara, terlalu keras tertawa, dan terlalu lama mengingat kesalahan orang. Tetapi ia selalu mengira nama kota itu berbeda. Rumah roti. Kakek-kakek mereka yang memberi nama itu, dulu, ketika mereka pertama kali melihat lereng-lereng di sebelah timur kota menguning oleh jelai dan gandum, dan tanah yang merah itu mengembalikan setiap benih yang ditaburkan dengan berlipat-lipat. Sebuah kota tidak dinamai rumah roti kalau tanahnya tidak setia.
Bagian I: Moab
Kelaparan di Rumah RotiBab 1 · 6 menitGratisBagian II: Jalan Pulang
Ke Mana Engkau PergiBab 4 · 13 menitBagian III: Ladang
KebetulanBab 6 · 13 menitBagian IV: Pintu Gerbang
Tempat PengirikanBab 9 · 15 menit