
Seri Surat-Surat, Buku 2. Jemaat yang bertengkar di kota pelabuhan, surat tentang kasih yang sabar, dan surat yang ditulis dengan air mata.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesKorintus kota dua laut: pelabuhan, pasar, kuil-kuil di bukit, dan kapal-kapal yang ditarik melintasi tanah genting. Di kota itu sekelompok kecil orang berkumpul di rumah-rumah, dan mulai bertengkar: aku dari Paulus, aku dari Apolos, aku dari Kefas. Di meja perjamuan Tuhan, yang kaya makan dulu, dan buruh yang datang sesudah bekerja seharian hanya menemukan sisa.
Dari Efesus, Paulus menulis kepada mereka tentang salib yang tampak bodoh, tentang satu tubuh yang punya banyak anggota, dan tentang kasih yang sabar. Ia mengunjungi mereka dan pulang dengan hati yang luka, lalu menulis lagi dengan air mata.
Jalan yang Lebih Utama menceritakan jemaat di Korintus dari mata orang-orang di dalamnya: Krispus, juru hitung Khloe, seorang buruh tarik kapal, Stefanas, perempuan yang bernubuat, Erastus sang bendahara kota, Timotius, orang yang menyakiti hati Paulus, Titus, Lidia, tabib, Tertius yang menulis surat Roma, dan Febe yang membawanya ke barat. Buku kedua Seri Surat-Surat. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus aku memohon kepadamu: hendaklah kamu sehati dan sesuara, dan janganlah ada perpecahan di antara kamu. (1 Korintus 1:10)
Sudah lebih dari dua tahun Krispus tidak membawa kunci itu, tetapi tangannya masih mencarinya.
Setiap pagi, ketika ia mengikat ikat pinggangnya, jari-jarinya meraba ke sisi kiri, ke tempat kunci perunggu itu dulu tergantung pada seutas tali kulit, kunci pintu rumah ibadat dan kunci peti kayu tempat gulungan-gulungan Taurat disimpan. Ia memakainya hampir dua puluh tahun. Talinya sudah tiga kali diganti, dan di kain jubahnya, di tempat kunci itu biasa bergesek, masih ada bekas yang lebih pudar dari kain di sekitarnya. Istrinya pernah menawarkan untuk menambalnya. Krispus berkata tidak usah.
Bagian I: Golongan-Golongan
Aku dari ApolosBab 1 · 14 menitGratisBagian II: Jalan yang Lebih Utama
Satu TubuhBab 4 · 15 menitBagian III: Surat dengan Air Mata
Jangan Ada yang Menganggap Dia RendahBab 7 · 13 menitBagian IV: Harta dalam Bejana Tanah Liat
Bejana Tanah LiatBab 10 · 14 menit