
Seri Ezra-Nehemia, Buku 2. Tembok yang dibangun dalam lima puluh dua hari, pagi di depan Pintu Gerbang Air, dan doa seorang gubernur tua.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesDua belas tahun sesudah Ezra datang, rumah Allah sudah berdiri di Yerusalem, tetapi temboknya masih runtuh dan pintu-pintu gerbangnya masih hangus. Di benteng Susan, seorang juru minuman raja mendengar kabar itu, duduk, dan menangis berhari-hari untuk kota yang belum pernah ia lihat.
Ingatlah Aku menceritakan ulang Kitab Nehemia: permaisuri yang melihat bibir juru minuman itu bergerak tanpa suara sebelum ia menjawab raja, anak-anak perempuan seorang penguasa yang ikut mengangkat batu, orang-orang yang bekerja dengan satu tangan dan memegang senjata dengan tangan yang lain, dan seorang ibu yang anak perempuannya diperhamba oleh saudara sebangsanya sendiri. Lalu pagi ketika seluruh bangsa berdiri dari fajar sampai tengah hari mendengarkan Taurat, menangis, dan disuruh pulang untuk makan dan bersukacita.
Tetapi kitab ini tidak berakhir dengan pentahbisan tembok. Ia berakhir dengan seorang laki-laki tua yang kembali ke Yerusalem dan menemukan janji-janji itu sudah dilupakan, membereskan semuanya sekali lagi, dan menutup catatannya dengan satu permintaan.
Buku kedua dan penutup Seri Ezra-Nehemia. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Lalu mereka berkata, “Ayo, kita bangun!” Dan mereka menguatkan tangan mereka untuk pekerjaan yang baik itu. (Nehemia 2:18)
Setiap pagi ia mencicipi kematian, dan setiap pagi kematian itu tidak datang.
Begitu cara para pelayan dapur di benteng Susan membicarakan pekerjaannya, setengah bercanda, kalau mereka mengira ia tidak mendengar. Nehemia tidak tersinggung. Memang begitulah pekerjaannya. Sebelum anggur sampai ke bibir raja, anggur itu harus lebih dulu sampai ke bibirnya. Ia menuangkan sedikit dari kendi ke dalam cawan kecil yang hanya dipakai untuk itu, mengangkatnya ke depan para saksi, meminumnya, lalu menunggu. Lidahnya membaca anggur itu seperti mata seorang ahli kitab membaca gulungan: rasa kayu tong, rasa tanah kebun di lereng-lereng Media, rasa manis yang sedikit terlalu tua, rasa asam yang tidak semestinya ada. Kalau ada sesuatu yang lain, ia yang akan mati, dan raja akan hidup.
Bagian I: Tembok
Juru Minuman RajaBab 1 · 10 menitGratisBagian II: Satu Tangan
Kalau Seekor Anjing Hutan MelompatBab 5 · 13 menitBagian III: Pintu Gerbang Air
Kota yang Luas dan SepiBab 9 · 13 menit