
Seri Injil, Buku 2. Suara yang berseru di padang gurun, langit yang terbuka di atas sungai Yordan, dan orang-orang biasa yang mendengar dua kata.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesTiga puluh tahun sesudah kelahiran di Betlehem, seorang laki-laki berpakaian bulu unta berdiri di tepi sungai Yordan dan berseru: bertobatlah. Orang-orang datang dari mana-mana dan turun ke air. Lalu pada suatu hari seorang laki-laki dari Nazaret ikut turun ke air, dan langit terbuka.
Ikutlah Aku menceritakan awal pelayanan Yesus dari mata orang-orang yang bertemu dengan-Nya. Seorang pemungut cukai dari Yerikho di tepi sungai. Andreas, yang bertanya di mana Ia tinggal. Natanael di bawah pohon ara. Seorang pelayan di pesta Kana yang tahu dari mana anggur itu datang. Nikodemus, yang datang pada malam hari. Seorang perempuan Samaria yang menimba air pada tengah hari supaya tidak bertemu siapa-siapa. Tetangga lama di Nazaret. Simon, yang semalam-malaman tidak menangkap apa-apa. Dan seorang yang sakit kusta, yang disentuh untuk pertama kali dalam bertahun-tahun.
Wajah Yesus sengaja tidak digambarkan. Ia dilihat sebagaimana mereka melihat-Nya.
Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Ada suara yang berseru di padang gurun: siapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan-jalan-Nya. (Markus 1:3)
Ayahnya pernah menuliskan namanya di atas papan lilin, sebelum ia lahir.
Yohanes tidak ingat papan itu. Ia hanya ingat cerita tentangnya, yang diceritakan ibunya berkali-kali pada malam hari, ketika ia masih kecil dan tidur di atas tikar di dekat tungku, dan ayahnya yang sudah sangat tua duduk di ambang pintu memandang ke arah bukit-bukit. Cerita tentang seorang imam yang menjadi bisu di dalam tempat kudus. Tentang tetangga-tetangga yang hendak menamai bayi itu menurut nama ayahnya. Tentang tangan tua yang gemetar menggoreskan sebuah nama di atas lilin, dan lidah yang terlepas.
Ayah dan ibunya sudah lama meninggal sekarang. Mereka dikuburkan di lereng bukit di dekat kota kecil di pegunungan Yehuda itu, di samping kubur-kubur keluarga yang lain. Yohanes masih muda waktu itu, dan sesudah menguburkan mereka ia tidak kembali ke rumah yang kosong. Ia pergi ke padang gurun, ke arah timur, ke tanah yang turun curam menuju lembah Yordan dan Laut Asin, tempat batu-batu kapur memantulkan panas matahari seperti tungku dan tidak ada yang tumbuh kecuali semak berduri dan rumput yang kering sebelum musimnya habis.
Bagian I: Suara di Padang Gurun
Suara yang BerseruBab 1 · 12 menitGratisBagian II: Anggur yang Terbaik
Enam Tempayan BatuBab 5 · 15 menitBagian III: Sumur Yakub
Tengah HariBab 9 · 14 menit