
Seri Surat-Surat, Buku 5. Dua saudara yang lama tidak percaya kepada abang mereka, sebuah jemaat yang miskin, dan surat-surat tentang iman yang bekerja.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesYakobus tumbuh di rumah tukang kayu yang sama dengan Yesus, dan tidak percaya kepada-Nya sampai Ia bangkit. Sekarang ia memimpin jemaat yang miskin di Yerusalem, berlutut begitu lama di bait Allah sampai lututnya keras, dan menulis kepada orang-orang percaya di perantauan: berbahagialah orang miskin; jadilah pelaku firman; bersabarlah seperti petani yang menantikan hujan awal dan hujan akhir.
Yudas, adiknya, yang dulu juga tidak percaya, berjalan dari jemaat ke jemaat bersama istrinya. Ia melihat orang-orang yang menyusup dan memutarbalikkan kasih karunia, dan ia menulis sebuah surat pendek yang berakhir dengan pujian bagi Dia yang berkuasa menjaga kita supaya jangan tersandung.
Hujan Awal dan Hujan Akhir menceritakan surat Yakobus dan surat Yudas dari mata Yudas, seorang buruh harian, penjaga pintu rumah perkumpulan, juru tulis, anak yatim di Damsyik, guru di Antiokhia, juru mudi tua di Siprus, pedagang, penatua yang sakit, Yakobus sendiri, dan istri Yudas. Buku kelima Seri Surat-Surat. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datang dari atas, turun dari Bapa segala terang. Pada-Nya tidak ada perubahan, dan tidak ada bayang-bayang karena pertukaran. (Yakobus 1:17)
Yudas saudara Yakobus mencium Yerusalem sebelum ia melihat temboknya.
Asap. Bukan asap tungku kampung, yang tipis dan berbau ranting zaitun, melainkan asap yang tebal dan berlemak, yang naik dari mezbah di atas bukit dan dibawa angin turun ke lembah-lembah sampai ke jalan yang mereka lalui dari utara. Istrinya mengangkat kepala dan menghirupnya, lalu memandang Yudas, dan Yudas tahu ia sedang menghitung hari. Mereka berangkat dari Galilea ketika gandum di ladang mereka baru selesai diirik, dan sekarang hari raya Tujuh Minggu sudah dekat, dan jalan itu penuh orang yang membawa keranjang-keranjang hasil pertama, dan seruling, dan anak-anak yang tertidur di bahu ayah mereka.
Bagian I: Yerusalem
Lutut UntaBab 1 · 15 menitGratisBagian II: Pelaku Firman
CerminBab 5 · 13 menitBagian III: Hujan Akhir
Upah yang DitahanBab 9 · 15 menit