
Kisah Yosua. Sungai yang berhenti mengalir, tembok yang runtuh, dan batu-batu yang didirikan supaya anak-anak bertanya.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesMusa sudah wafat di gunung Nebo, dan bangsa yang lahir di padang gurun berdiri di tepi sungai Yordan yang meluap. Begitu kaki para imam yang memikul tabut menyentuh air, sungai itu berhenti. Dua belas orang mengangkat dua belas batu dari dasarnya, supaya kelak, apabila anak-anak bertanya apa artinya batu-batu itu, ada yang bisa menjawab.
Dua Belas Batu menceritakan ulang Kitab Yosua: Rahab dan tali kirmizi di jendela rumahnya di tembok Yerikho, pagi pertama tanpa manna sesudah empat puluh tahun, Akhan dan barang yang disembunyikan di bawah kemahnya, orang Gibeon dengan roti berjamur, matahari yang berhenti di atas Gibeon, dan Kaleb yang pada umur delapan puluh lima tahun berkata: berikanlah kepadaku pegunungan ini.
Lalu di Sikhem, seorang tua berdiri di depan bangsanya dan berkata: pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.
Lanjutan Seri Musa. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Bukankah Aku yang menyuruh engkau? Kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Jangan gemetar dan jangan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau ke mana pun engkau pergi. (Yosua 1:9)
Rumah Rahab menempel pada tembok kota, dan dari jendelanya ia bisa melihat dua dunia.
Kalau ia berdiri di ambang pintu, ia melihat Yerikho: lorong-lorong sempit yang berbau roti dan asap, pasar di dekat pintu gerbang, kuil di bukit kecil di tengah kota, rumah-rumah bata lumpur yang berdesakan seperti domba di kandang. Kalau ia membuka jendela di dinding belakang, ia melihat ke luar: pohon-pohon kurma di sekitar mata air, ladang jelai yang mulai menguning, dan jauh di timur, garis hijau yang berkelok di dasar lembah. Sungai Yordan. Di seberangnya, bukit-bukit Moab yang ungu pada sore hari.
Bagian I: Menyeberang
Tali KirmiziBab 1 · 8 menitGratisBagian II: Yerikho
Tujuh Kali MengelilingiBab 5 · 13 menitBagian III: Matahari
Roti yang BerjamurBab 8 · 12 menit