
Seri Musa, Buku 1. Dari raja yang tidak mengenal Yusuf sampai semak yang tidak terbakar.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesEmpat ratus tahun sesudah Yusuf, seorang raja baru bangkit di Mesir dan tidak lagi mengenal namanya. Keturunan Yakub dijadikan budak pembuat bata. Ketika mereka tetap bertambah banyak, raja memerintahkan agar setiap bayi laki-laki dibuang ke Sungai Nil.
Tetapi dua bidan takut akan Allah lebih daripada takut kepada raja. Seorang ibu menganyam peti pandan dan menaruh bayinya di sungai yang sama yang seharusnya membunuhnya. Seorang kakak perempuan mengawasi dari balik teberau. Dan seorang putri Mesir mendengar tangis bayi dan menamainya Musa, sebab ia menariknya dari air.
Ditarik dari Air menceritakan ulang Keluaran 1 sampai 6: istana dan pelarian, sumur di Midian, empat puluh tahun sunyi, semak yang menyala dan tidak terbakar, sebuah nama: AKU ADALAH AKU. Lalu kegagalan pertama di depan Firaun, dan Allah yang tetap berkata: sekarang engkau akan melihat.
Buku pertama Seri Musa, lanjutan Seri Kejadian. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Allah mendengar mereka mengerang, dan Allah mengingat perjanjian-Nya. (Keluaran 2:24)
Ayah Amram pernah melihat peti itu dibuka.
Ia menceritakannya sekali saja, ketika Amram masih kecil, pada malam ketika semua laki-laki dewasa di perkampungan Gosyen pulang dari padang dengan lumpur sampai ke lutut dan tidak ada yang punya tenaga untuk bercerita apa-apa. Kehat sudah sangat tua waktu itu. Ia duduk di depan api dengan kedua tangan di atas tongkatnya, dan anak-anak duduk di sekelilingnya karena ia satu-satunya orang di kampung yang pernah melihat Yakub dengan matanya sendiri.
“Aku kecil,” katanya. “Lebih kecil daripada kau. Kami datang dari Kanaan dengan kereta-kereta yang dikirim dari Mesir. Kakekku duduk di kereta paling depan. Ia sudah sangat tua, dan kakinya pincang, dan ia menangis waktu melihat Yusuf.”
Bagian I: Sungai
Raja yang Tidak Mengenal YusufBab 1 · 9 menitGratisBagian II: Pasir
Di Dalam PasirBab 5 · 12 menitBagian III: Api
Semak yang Tidak TerbakarBab 8 · 13 menit