
Seri Injil, Buku 3. Seorang guru di atas bukit, sebuah perahu di tengah badai, dan pertanyaan yang terus diulang: siapa sebenarnya orang ini?
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesDi Galilea, orang banyak datang dari mana-mana. Mereka mendengar seorang guru di atas bukit berkata berbahagialah orang yang miskin, yang berduka, yang lapar. Mereka melihat orang lumpuh berjalan, angin dan danau diam, roti yang tidak habis-habis. Dan semakin banyak yang mereka lihat, semakin besar pertanyaan murid-murid di perahu yang hampir tenggelam: siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?
Diamlah, Tenanglah menceritakan pelayanan Yesus di Galilea dari mata orang-orang yang bertemu dengan-Nya. Seorang janda petani di lereng bukit. Empat sahabat yang membongkar atap. Lewi di rumah cukai. Seorang perwira dari negeri jauh. Orang dari Gerasa yang tinggal di pekuburan. Perempuan yang dua belas tahun sakit dan menjamah jubah-Nya. Yohanes Pembaptis di penjara, yang bertanya: Engkaukah Dia? Anak yang membawa lima roti dan dua ikan. Perempuan dari daerah Tirus yang berani menjawab. Dan tiga murid di atas gunung yang mendengar suara dari awan.
Wajah Yesus sengaja tidak digambarkan. Ia dilihat sebagaimana mereka melihat-Nya.
Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, sebab Kerajaan Surga adalah milik mereka. (Matius 5:3)
Bunga-bunga itu tumbuh lagi di sepanjang pematang, merah di antara batu-batu, seperti setiap tahun sesudah hujan terakhir.
Perempuan itu berjongkok di ujung ladangnya sebelum matahari terbit dan memandangi bunga-bunga itu dengan tangan di pangkuan. Suaminya dulu tidak pernah mau mencabutnya. Bunga bakung liar, katanya, tidak memakan tempat, dan anak-anak senang memetiknya. Ia sendiri selalu ingin mencabutnya. Tanah di pematang itu tanah yang baik, lebih gembur daripada tanah di tengah ladang yang penuh batu, dan sejengkal tanah yang baik bisa ditanami sejengkal jelai. Sekarang suaminya sudah tidak ada, dan tidak ada lagi yang melarangnya.
Bagian I: Di Atas Bukit
BerbahagialahBab 1 · 15 menitGratisBagian II: Di Danau
PenaburBab 5 · 15 menitBagian III: Roti di Padang Rumput
Engkaukah Dia?Bab 9 · 14 menit