
Kisah Ayub. Seorang yang saleh kehilangan segalanya dalam satu hari, tiga sahabat yang tahu terlalu banyak, dan Allah yang menjawab dengan pertanyaan.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesDi tanah Us ada seorang laki-laki yang saleh dan jujur, yang setiap kali sesudah anak-anaknya berpesta bangun pagi-pagi untuk mempersembahkan korban bagi mereka satu per satu. Dalam satu hari ia kehilangan ternaknya, hamba-hambanya, dan kesepuluh anaknya. Lalu tubuhnya sendiri. Ia duduk di abu dan menggaruk barahnya dengan sekeping tembikar, dan tidak berbuat dosa dengan bibirnya.
Dari Dalam Badai menceritakan ulang Kitab Ayub: hamba yang harus membawa kabar keempat, istri yang kehilangan sepuluh anak dan mengucapkan satu kalimat yang membuatnya dihakimi berabad-abad, tiga sahabat yang duduk diam tujuh hari tujuh malam lalu mulai menjelaskan mengapa semua itu terjadi, dan seorang orang muda yang menunggu giliran terlalu lama.
Ayub tidak tahu mengapa. Pembaca tahu sesuatu yang tidak pernah diketahui Ayub. Dan ketika Allah akhirnya menjawab dari dalam badai, Ia tidak menjelaskan apa pun. Ia bertanya: di manakah engkau ketika Aku meletakkan dasar bumi?
Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
TUHAN yang memberi, dan TUHAN pula yang mengambil. Terpujilah nama TUHAN. (Ayub 1:21)
Ayub selalu bangun sebelum anak-anaknya.
Itu bukan kebiasaan yang ia pilih. Itu kebiasaan yang tumbuh sendiri, pelan-pelan, selama bertahun-tahun, seperti akar pohon tamariska di tepi sumur yang lama-lama mengangkat batu-batu bibir sumur tanpa ada yang melihatnya bergerak. Dulu, ketika anak-anaknya masih kecil dan tidur berdesakan di bilik yang sama, ia bangun sebelum mereka karena salah seorang dari mereka selalu menangis menjelang fajar, dan istrinya sudah terlalu lelah. Sekarang anak-anaknya sudah besar, sudah punya rumah sendiri, dan tidak ada yang menangis menjelang fajar. Tetapi ia tetap bangun.
Pagi itu ia berdiri di atas sotoh rumahnya dan memandang ke timur, ke arah padang yang masih abu-abu, menunggu garis pertama cahaya.
Bagian I: Tanah Us
Saleh dan JujurBab 1 · 9 menitGratisBagian II: Para Sahabat
Suara Halus di Malam HariBab 5 · 13 menitBagian III: Badai
Di Manakah EngkauBab 11 · 13 menitBagian IV: Sesudah Itu
Tujuh Lembu JantanBab 13 · 12 menit