
Seri Raja-Raja, Buku 2. Kerajaan yang terkoyak, api di Karmel, dan Allah yang tidak ada dalam angin, gempa, atau api.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesDi Sikhem, rakyat meminta raja yang baru meringankan kuk mereka. Rehabeam menjawab dengan kalajengking, dan sepuluh suku pulang ke kemah masing-masing. Kerajaan Daud terkoyak menjadi dua.
Bunyi Angin Sepoi-Sepoi menceritakan ulang 1 Raja-Raja 12 sampai 22: dua anak lembu emas di Betel dan Dan, seorang nabi tua yang berdusta, istri raja yang menyamar di ambang pintu, burung gagak di sungai Kerit, tepung dalam tempayan seorang janda di Sarfat, dan seorang laki-laki dari Tisbe yang berdiri sendirian di depan empat ratus lima puluh nabi Baal di gunung Karmel.
Sesudah api turun dari langit, Elia lari. Ia duduk di bawah sebatang pohon di padang gurun dan meminta supaya ia mati saja. Lalu ia berjalan empat puluh hari ke Horeb, dan di sana ia menunggu TUHAN di dalam angin, gempa, dan api.
Buku kedua Seri Raja-Raja. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Kita tidak punya bagian pada Daud, tidak punya pusaka pada anak Isai. Ke kemahmu masing-masing, hai Israel! (1 Raja-Raja 12:16)
Laki-laki tua itu berjalan ke Sikhem dengan tangan yang masih kapalan, dan sepanjang jalan ia menghitung pohon aras yang pernah ia tebang.
Ia tidak bisa menghitungnya dengan tepat. Terlalu banyak, terlalu lama yang lalu. Tetapi ia ingat bunyinya: kapak yang menggigit batang yang tebal dan harum, getah yang menempel di jari dan tidak bisa dicuci selama berhari-hari, derak panjang ketika pohon itu mulai condong, lalu bunyi yang mengguncang tanah ketika ia rebah di lereng Libanon. Sebulan di Libanon, dua bulan di rumah. Sepuluh ribu orang setiap bulan, bergilir. Bertahun-tahun.
Bagian I: Terkoyak
KalajengkingBab 1 · 7 menitGratisBagian II: Kemarau
Burung Gagak di Sungai KeritBab 5 · 13 menitBagian III: Horeb
CukuplahBab 9 · 13 menit