
Seri Surat-Surat, Buku 1. Seorang hamba yang lari, seorang rasul yang dirantai, dan surat pendek yang meminta seorang tuan menerima hambanya sebagai saudara.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesNamanya berarti berguna. Ia hamba di rumah seorang yang saleh di Kolose, rumah tempat jemaat berkumpul setiap minggu dan mendengar bahwa di dalam Kristus tidak ada lagi hamba atau orang merdeka. Lalu pada suatu malam ia mengambil sesuatu yang bukan miliknya dan lari, ke barat, ke kota terbesar di dunia.
Di kota itu, di sebuah rumah sewaan yang dijaga seorang prajurit, ia menemukan orang yang dulu membawa tuannya kepada iman. Dan orang yang dirantai itu menulis surat pendek kepada Filemon, meminta sesuatu yang tidak pernah diminta orang dari seorang tuan: terimalah dia, bukan lagi sebagai hamba, melainkan sebagai saudara.
Bukan Lagi sebagai Hamba menceritakan surat Filemon dari mata orang-orang di sekitarnya: Onesimus, Apfia, Epafras, Timotius, Tikhikus, Markus, Arkhipus, Filemon, dan Nimfa di Laodikia. Buku pertama Seri Surat-Surat. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Di sini tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, yang bersunat atau yang tidak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka; Kristuslah segala-galanya, dan Ia ada di dalam semuanya. (Kolose 3:11)
Namanya dipanggil dari ruang depan, dan semua orang di meja itu tertawa.
Onesimus sedang berlutut di halaman tengah, membilas cawan-cawan di bak batu di dekat sumur, dan ia mendengar suara tuannya memanggil, tidak keras, hanya cukup supaya terdengar sampai ke belakang. Ia mengeringkan tangannya di ujung jubahnya dan masuk dengan kendi anggur yang baru. Tamu-tamu dari Laodikia berbaring di bangku-bangku rendah di sekeliling meja, beberapa pedagang wol dengan cincin di jari mereka dan debu jalan yang belum seluruhnya hilang dari kaki mereka. Salah seorang dari mereka, yang paling gemuk, memandang Onesimus menuangkan anggur ke dalam cawannya, lalu memandang Filemon.
Bagian I: Kolose
BergunaBab 1 · 15 menitGratisBagian II: Roma
Kota yang BesarBab 4 · 15 menitBagian III: Surat-Surat
Surat kepada Jemaat di KoloseBab 8 · 15 menit