
Seri Musa, Buku 2. Sepuluh tulah, satu malam, dan laut yang terbelah.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesFiraun bertanya, "Siapakah TUHAN itu, sehingga aku harus mendengarkan Dia?" Buku ini adalah jawabannya.
Seorang ahli sihir istana melihat tongkatnya ditelan. Seorang pelayan perempuan menggali tanah di tepi sungai yang berbau darah, mencari air minum untuk anaknya. Seorang pegawai Firaun yang takut akan firman TUHAN menyuruh budak-budaknya masuk sebelum hujan es. Di Gosyen, seorang anak sulung Israel makan berdiri dengan kasut di kaki, mendengarkan malam yang lewat di depan pintu yang diolesi darah.
Biarkan Umat-Ku Pergi menceritakan ulang Keluaran 7 sampai 15: sepuluh tulah, Paskah yang pertama, tulang-tulang Yusuf yang akhirnya dibawa pulang, tiang awan dan tiang api, dan jalan kering di tengah laut. Penderitaan Mesir ditulis dengan berat, tidak dirayakan, dan kebebasan Israel ditulis sebagai karya Allah yang berperang sementara umat-Nya diam saja.
Buku kedua Seri Musa. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Orang Mesir akan tahu bahwa Akulah TUHAN. (Keluaran 7:5)
Ahli sihir itu sudah melayani tiga raja, dan ia belum pernah takut kepada siapa pun selain kepada raja.
Ia masuk ke rumah pengajaran di kuil ketika masih anak-anak, dengan kepala dicukur dan telapak tangan yang belum pernah memegang apa pun selain tangan ibunya. Di sana ia belajar membaca tanda-tanda yang ditulis di dinding batu, menghafal nama-nama yang tidak boleh diucapkan di luar, mengenali bintang yang naik sebelum air sungai naik. Ia belajar ramuan dan rumus, dan kata-kata yang harus diucapkan dengan tekanan yang tepat, dan cara memegang tongkat supaya orang yang memandangnya percaya bahwa sesuatu sedang terjadi.
Sebagian besar yang ia pelajari adalah cara membuat orang percaya. Ia tahu itu, dan ia tidak malu karenanya. Raja-raja membutuhkan orang yang bisa membuat orang lain percaya. Kerajaan berdiri di atas hal itu sama kokohnya dengan berdiri di atas gandum.
Bagian I: Tongkat
Tongkat yang MenelanBab 1 · 8 menitGratisBagian II: Gelap
Yang Takut akan FirmanBab 5 · 14 menitBagian III: Malam
Bulan PertamaBab 8 · 15 menit