
Seri Surat-Surat, Buku 4. Seorang nelayan tua yang pernah menyangkal, sebuah kota yang disebut Babel, dan surat-surat untuk orang-orang yang hidup sebagai pendatang.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 45.000
Masuk untuk membuka aksesSimon dinamai Batu oleh Orang yang pernah ia sangkal tiga kali. Sekarang ia tua, di kota terbesar di dunia, di antara orang-orang yang tidak mengerti logat Galileanya. Markus menjadi juru bahasanya, dan setiap malam menuliskan apa yang ia ceritakan. Dari kota itu, yang ia sebut Babel, Petrus menulis kepada orang-orang percaya di lima wilayah yang dicurigai tetangganya: kamu adalah batu-batu yang hidup; kamu pendatang dan perantau.
Lalu kota itu sendiri terbakar, dan nyala api itu datang kepada jemaat di Roma. Petrus tahu waktunya sudah dekat, seperti yang dulu dikatakan kepadanya di tepi danau. Ia menulis sekali lagi, supaya sesudah ia pergi mereka tetap ingat.
Batu yang Hidup menceritakan surat-surat Petrus dari mata Markus, Petrus sendiri, Silwanus, istri Petrus, seorang tukang di Pontus, seorang gembala di Kapadokia, seorang perempuan di Asia, seorang penatua di Bitinia, seorang perempuan muda di Roma, dan seorang juru tulis. Buku keempat Seri Surat-Surat. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 45.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus! Karena belas kasihan-Nya yang besar Ia telah membuat kita lahir kembali, oleh Yesus Kristus yang bangkit dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. (1 Petrus 1:3)
Di seberang sungai orang bangun lebih pagi daripada di bagian kota yang lain, karena di sana orang bekerja dengan tangannya.
Markus sudah cukup lama tinggal di sana untuk mengenal urutan bunyi-bunyinya sebelum terang. Yang pertama selalu tukang tembikar di sebelah, yang menendang roda putarnya beberapa kali untuk mencoba apakah porosnya masih berputar dengan baik, lalu batuk, lalu meludah ke halaman. Sesudah itu air. Perempuan-perempuan dari lorong itu turun ke pancuran di ujung jalan dengan kendi di pinggang, dan suara mereka naik turun dalam tiga bahasa: bahasa Yunani dari perempuan-perempuan yang datang dari kota-kota pelabuhan di timur, bahasa Latin dari perempuan-perempuan yang lahir di sini, dan bahasa ibu Markus sendiri dari beberapa perempuan tua yang dulu datang dari Yudea dan Galilea dan tidak pernah mau belajar bahasa yang lain. Sesudah itu bak-bak rendaman tukang samak di tepi sungai, yang dibuka dan diaduk, dan baunya merayap naik ke lorong-lorong, dan orang-orang yang baru beberapa hari tinggal di sana menutup hidung, dan orang-orang yang sudah lama tidak lagi menciumnya.
Bagian I: Babel
Di Seberang SungaiBab 1 · 15 menitGratisBagian II: Pendatang dan Perantau
Tidak Lagi TurutBab 5 · 15 menitBagian III: Nyala Api
Kota yang TerbakarBab 9 · 15 menit