
Seri Kejadian, Buku 2. Dari panggilan di Haran sampai gua Makhpela.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 49.000
Masuk untuk membuka aksesBuku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Seorang laki-laki berumur tujuh puluh lima tahun mendengar suara yang menyuruhnya pergi, tanpa peta dan tanpa nama negeri. Istrinya menjawab janji yang terlalu besar itu dengan menghitung kirbat air. Seorang hamba perempuan Mesir lari ke padang gurun dan pulang membawa nama baru bagi Allah: El-Roi, Allah yang melihat aku. Seorang anak memikul kayu mendaki gunung di samping ayahnya, dan bertanya di mana anak domba untuk korban bakaran.
Bapa yang Beriman menceritakan ulang Kejadian 12 sampai 25 dari dalam: panggilan Abram, Mesir, perpisahan dengan Lot, perjanjian bintang, Hagar dan Ismael, tawa Sara, Sodom, Moria, dan sebuah sumur di kota Nahor. Iman di buku ini bukan jalan lurus. Ada ketakutan, jalan pintas yang melukai, dan tawar-menawar di hadapan Allah. Dan ada Allah yang berjanji, menunggu dua puluh lima tahun, lalu menepatinya.
Buku kedua Seri Kejadian, lanjutan Awal Mula. Bisa dibaca sendiri.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 49.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Ia berangkat tanpa tahu ke mana ia pergi. (Ibrani 11:8)
Tanah di atas kubur ayahnya belum kering ketika suara itu datang.
Abram masih duduk di depan tenda, di tempat yang sama sejak senja. Api di depannya sudah tinggal bara. Di dalam tenda Sarai tidur, atau pura-pura tidur, karena sejak pemakaman ia tidak banyak bicara, dan Abram tahu istrinya kadang memilih diam supaya suaminya bisa diam juga. Agak jauh dari situ, di tenda yang lebih kecil, Lot tidur dengan napas berat anak muda yang sudah bekerja seharian menggali tanah keras untuk kakeknya.
Bintang-bintang di atas Haran sangat banyak malam itu. Abram tidak sedang menghitungnya. Ia hanya memandanginya seperti orang memandangi sesuatu yang terlalu besar untuk dipikirkan, supaya tidak usah memikirkan hal yang lebih kecil dan lebih berat: bahwa ayahnya sudah tidak ada, bahwa tanah Kanaan yang dulu disebut-sebut ayahnya sebagai tujuan masih jauh di barat daya, dan bahwa di tenda di belakangnya ada seorang perempuan yang sudah lama berhenti menyebut-nyebut anak.
Bagian I: Pergi
PergilahBab 1 · 11 menitGratisBagian II: Janji
Hitunglah BintangBab 5 · 15 menitBagian III: Tawa
Di Pintu KemahBab 8 · 13 menit