
Seri Kejadian, Buku 1. Dari "jadilah terang" sampai menara di Sinear.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 49.000
Masuk untuk membuka aksesBuku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Seorang laki-laki membuka mata untuk pertama kalinya dan belum tahu kata "sendiri". Seorang perempuan mendengar pertanyaan yang memelintir larangan, dan buah itu ternyata rasanya seperti buah. Seorang ibu menunggu dua anaknya pulang dari padang, dan hanya kawanan domba yang kembali. Seorang istri tukang kayu bertahun-tahun menghitung hari dengan simpul di tali, sementara tetangganya menertawakan bahtera di tanah kering.
Awal Mula menceritakan ulang Kejadian 1 sampai 11 dari dalam, lewat mata orang-orang yang mengalaminya: penciptaan, taman, kejatuhan, Kain dan Habel, air bah, busur di awan, dan menara di Sinear. Urutan, nama, dan angka-angkanya setia pada teks Alkitab. Yang dibayangkan adalah yang tidak diceritakan: rasa takut, rindu, dan harapan manusia-manusia pertama.
Di sepanjang kisah ada satu pertanyaan yang terus terdengar dari taman: Di manakah engkau? Dan Allah yang tidak berhenti datang mencari.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 49.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Dari debu tanah Ia membentuk manusia, lalu menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya. (Kejadian 2:7)
Tidak ada pagi karena belum ada yang terbit, dan tidak ada malam karena malam adalah nama, dan belum ada yang memberi nama. Yang ada hanya air yang dalam, gelap di atas permukaannya, dan bumi yang belum berbentuk dan kosong. Air itu tidak berombak karena tidak ada angin. Ia tidak dingin dan tidak hangat karena belum ada yang bisa merasakannya. Ia hanya ada, berat dan diam, sampai ke tepi yang tidak punya tepi.
Dan di atas air itu, Roh Allah melayang.
Bukan seperti kabut yang turun, bukan seperti burung yang mencari tempat hinggap. Seperti induk yang mengembangkan sayap di atas sarang sebelum telurnya menetas: dekat, menunggu, tidak tergesa-gesa. Gelap itu tidak sendirian. Sejak sebelum ada apa pun, gelap itu sudah ditunggui.
Bagian I: Taman
JadilahBab 1 · 12 menitGratisBagian II: Ladang
Di Sebelah Timur EdenBab 6 · 14 menitBagian III: Air
Yang Hidup Bergaul dengan AllahBab 10 · 13 menit