
Seri Iman & Kepemimpinan, Buku 2. Untuk kamu yang ingin usahanya tertata, bertumbuh, dan tetap bertahan ketika badai datang.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 50.000
Masuk untuk membuka aksesUang usaha bercampur dengan uang dapur. Rencana hanya ada di kepala. Mutu naik turun tergantung siapa yang bekerja hari itu. Perjanjian dengan mitra cuma lisan, lalu berujung sakit hati. Pelanggan yang marah dihadapi dengan marah. Dan ketika krisis datang, semua orang panik. Banyak usaha dimulai dengan semangat dan doa, tetapi goyah karena tidak dikelola dengan baik.
Buku ini mengajakmu belajar mengelola usaha dari kisah-kisah Alkitab: Allah yang menata dunia dengan teratur, Habakuk yang disuruh menuliskan penglihatan dengan jelas, Bezaleel dan Musa yang membangun Kemah Suci sesuai rancangan, Salomo dan Hiram yang bekerja sama dengan perjanjian yang jelas, bendahara yang diminta mempertanggungjawabkan pengurusannya, Daud yang menghitung rakyat karena bangga, Rehabeam yang salah mendengar nasihat, Abigail yang bergegas meredakan amarah, Yakub yang upahnya diubah sepuluh kali, Ishak yang terus menggali sumur, dan Paulus di tengah badai empat belas hari. Ukuran seorang pengurus bukan besarnya usaha, melainkan kesetiaannya.
Dua belas bab dengan renungan, langkah praktis, dan doa, bonus 30 Hari Menata Usaha, alat kerja pengurus (rencana satu halaman, pemeriksaan keuangan bulanan, perjanjian kerja sama, menanggapi keluhan, menghadapi krisis), serta panduan enam pertemuan.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 50.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Lakukanlah segala sesuatu dengan sopan dan teratur. (1 Korintus 14:40)
Bayangkan sebuah dapur katering rumahan pada pukul empat pagi. Hari ini ada pesanan dua ratus kotak nasi untuk acara syukuran di sebuah kantor. Kompor sudah menyala semua. Ibu pemilik katering berdiri di tengah dapur dengan ponsel di satu tangan dan sendok sayur di tangan yang lain. Dua pegawainya bertanya hampir bersamaan: ayamnya dimasak berapa kilo, sambalnya dipisah atau tidak, kotaknya yang mana. Ia menjawab sambil mengaduk, sambil membalas pesan pelanggan lain yang menanyakan pesanan minggu depan.
Di atas kulkas ada setumpuk kertas. Ada nota belanja, ada catatan pesanan yang ditulis di balik kertas pembungkus nasi, ada daftar utang pemasok sayur yang sudah lecek. Uang hasil pesanan kemarin masih di dompet yang sama dengan uang belanja dapur dan uang sekolah anak. Ia tidak tahu persis apakah bulan lalu usahanya untung atau rugi. Rasanya ramai, tetapi uangnya selalu terasa kurang.
Bagian I: Menata Usaha
Bumi Belum BerbentukBab 1 · 12 menitGratisBagian II: Melewati Musim
Penasihat-Penasihat TuaBab 7 · 12 menit