
Seri Iman & Uang, Buku 2. Untuk kamu yang sedang dikejar utang, dan malu menceritakannya kepada siapa pun.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 50.000
Masuk untuk membuka aksesTelepon yang tidak berani kamu angkat. Pesan penagih yang datang setiap pagi. Cicilan yang menumpuk, pinjaman yang dibuka untuk menutup pinjaman lain, dan rasa malu yang membuatmu tidak bercerita kepada siapa pun, bahkan kepada pasangan.
Buku ini berjalan bersama seorang janda dalam Alkitab yang anak-anaknya akan diambil penagih utang. Nabi Elisa tidak memberinya ceramah. Ia bertanya: apa yang kaupunyai di rumah? Lalu menyuruhnya meminjam bejana dari tetangga, menuang minyak, menjual, membayar utangnya, dan hidup dari sisanya. Dari kisah itu dan tokoh-tokoh Alkitab lain, buku ini menuntunmu langkah demi langkah: berhenti bersembunyi, melihat kenyataan, berhenti menambah utang, meminta tolong, berunding dengan jujur, melunasi satu demi satu, bertahan saat ditekan, lalu belajar hidup merdeka.
Dua belas bab pendek dengan renungan, langkah kecil, dan doa di akhir setiap bab, bonus 30 Hari Lepas dari Beban, Lembar Catatan Utang, serta panduan enam pertemuan untuk komsel dan kelompok PA. Buku kedua seri Iman & Uang, sesudah Kaya di Hadapan Allah.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 50.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Orang kaya memegang kuasa atas orang miskin, dan siapa yang berutang menjadi budak bagi pemberi pinjamannya. (Amsal 22:7)
Ada ketukan yang kita tunggu-tunggu, dan ada ketukan yang kita takuti.
Ketukan yang kita tunggu biasanya datang dari orang yang kita kasihi: anak yang pulang dari sekolah, saudara yang datang dari jauh, tetangga yang membawa sepiring kue. Kita bergegas membuka pintu. Tetapi ada pula ketukan yang membuat kita diam di tempat, menahan napas, berharap orang di luar mengira rumah sedang kosong. Ketukan dari seseorang yang datang untuk menagih.
Zaman sekarang, ketukan itu jarang terdengar di pintu kayu. Ia datang lewat getaran di saku celana. Lewat nada pesan yang masuk pada jam makan siang. Lewat nomor-nomor asing yang menelepon sejak pagi, berganti-ganti, seakan-akan tidak pernah lelah. Ada orang yang sampai mengubah ponselnya ke mode senyap selama berbulan-bulan, lalu tetap terlonjak setiap kali layarnya menyala. Ada yang membalikkan ponselnya di atas meja supaya tidak perlu melihat siapa yang menghubungi. Bentuknya berbeda, tetapi rasanya sama dengan ketukan di pintu ribuan tahun yang lalu: ada seseorang di luar sana yang punya hak menagih, dan kita tidak punya cukup untuk membayarnya.
Bagian I: Mengakui Beban
Ketukan di PintuBab 1 · 12 menitGratisBagian II: Jalan Keluar
Menemui EsauBab 7 · 10 menit