
Sejarah
oleh Dalo
Kutipan ayat Alkitab diambil dari Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.
Untuk kamu yang ingin tahu siapa orang di balik nama Meester Cornelis.
9 bab · ± 2 jam 46 menit membaca · 2 bab gratis
Nama Meester Cornelis bertahan hampir tiga abad di peta Batavia; orangnya, seorang guru dari Banda, nyaris hilang dari ingatan.
Notula gereja abad ke-17 mencatat Cornelis Senen di antara orang Banda, dan keterangan dari tahun 1922 menyebutnya berasal dari Selamon, kampung yang dikosongkan dan dibakar Kompeni pada 1621. Di Batavia ia menjadi guru, pembaca, lalu proponen yang berkhotbah dalam bahasa Melayu dan Portugis. Ia menerima uang makan pendeta, dan diusulkan menjadi pendeta oleh majelis gereja, pemerintah Batavia, dan para direktur Kompeni. Bersama orang-orang Banda lain, ia juga memohon kemerdekaan bagi orang Banda yang masih diperbudak di kepulauan asal mereka. Pada Mei 1657, sesudah ia sendiri menyatakan bersedia, ia diuji dan ditolak. Prasangka atau kecakapan? Para sejarawan berselisih sejak 1922, dan buku ini menunjukkan mengapa sumber yang ada belum dapat memutuskannya.
Ditulis dari surat-surat Coen, catatan harian Kastel Batavia, tata gereja 1643, potongan notula majelis gereja, ringkasan Valentijn, dan rol perkara 1662 yang dibaca dari naskah aslinya. Setiap klaim menyebut sumbernya, dan apa yang belum diketahui didaftarkan terbuka.
Prolog, Bab 1, dan Bab 7 bisa dibaca gratis.
Nama Meester Cornelis bertahan hampir tiga abad di peta Batavia; orangnya, seorang guru dari Banda, nyaris hilang dari ingatan.
Notula gereja abad ke-17 mencatat Cornelis Senen di antara orang Banda, dan keterangan dari tahun 1922 menyebutnya berasal dari Selamon, kampung yang dikosongkan dan dibakar Kompeni pada 1621. Di Batavia ia menjadi guru, pembaca, lalu proponen yang berkhotbah dalam bahasa Melayu dan Portugis. Ia menerima uang makan pendeta, dan diusulkan menjadi pendeta oleh majelis gereja, pemerintah Batavia, dan para direktur Kompeni. Bersama orang-orang Banda lain, ia juga memohon kemerdekaan bagi orang Banda yang masih diperbudak di kepulauan asal mereka. Pada Mei 1657, sesudah ia sendiri menyatakan bersedia, ia diuji dan ditolak. Prasangka atau kecakapan? Para sejarawan berselisih sejak 1922, dan buku ini menunjukkan mengapa sumber yang ada belum dapat memutuskannya.
Ditulis dari surat-surat Coen, catatan harian Kastel Batavia, tata gereja 1643, potongan notula majelis gereja, ringkasan Valentijn, dan rol perkara 1662 yang dibaca dari naskah aslinya. Setiap klaim menyebut sumbernya, dan apa yang belum diketahui didaftarkan terbuka.
Prolog, Bab 1, dan Bab 7 bisa dibaca gratis.
Mulai dari 2 bab gratis.
Kalau ceritanya menyentuhmu, lanjutkan sampai tamat. Sekali beli, buku ini tersimpan di rak Koleksiku.
Dibaca langsung di ponsel atau laptop, tersimpan di rak Koleksiku.
Rp 59.000
Beli Rp 59.000Masuk dengan Google, lalu langsung ke pembayaran.
Akses baca di Webbook, tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu (bukan file unduhan).
Bayar dengan QRIS (semua e-wallet & m-banking) atau transfer VA bank · diproses iPaymu
Siapkan nomor HP aktif: wajib untuk QRIS dan VA.
Tanya lewat WhatsAppDitulis oleh Dalo. Tentang penulis dan cara buku ini ditulis.
Sebelum membaca: nama Senen ditulis berganti-ganti dalam sumber, dan kutipan memakai ejaan aslinya. Kode G-001 dan seterusnya menandai hal yang belum diketahui; daftarnya ada di Lampiran B. Istilah Belanda dijelaskan di Glosarium, dan aturan ejaan di Catatan tentang Ejaan, di bagian belakang.
Pada 13 Desember 1656, catatan harian yang disusun di Kastel Batavia, Dagh-Register, memuat satu perjalanan pendek ke hulu. Seorang vaandrig (perwira rendah) Kompeni bernama Pieter Teunisse berangkat dengan pengawalan bersama tujuh puluh atau delapan puluh budak. Mereka hendak mengambil tiang, penyangga, dan kayu lain boven omtrent de thuijn van den proponent Mr Cornelis Senen, dicht bij de Groote riviere: di hulu, di sekitar kebun proponen Meester Cornelis Senen, dekat Sungai Besar. Di sana, tulis catatan itu, ada banyak kayu bagus yang mudah diangkut ke hilir, dan rombongan itu bermaksud memagari diri dengan pagger (benteng pagar kayu) serta memperlengkapinya dengan sedikit persenjataan.[^p_1]
Jangan Seorang Pun
Rp 19.000