
Perjalanan nyanyian umat dari Kitab Suci ke Indonesia.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 85.000
Masuk untuk membuka aksesBuku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Minggu malam. Umat berdiri, lagu dimulai, dan suara yang paling sukar didengar justru suara umat sendiri.
Buku ini menelusuri perjalanan panjang nyanyian umat: dari mazmur Israel dan gereja perdana yang bernyanyi sebelum fajar, lewat biara, Wittenberg, dan Jenewa, sampai ke kapal-kapal yang membawanya ke Batavia, Maluku, Flores, Tanah Batak, dan Tanah Papua. Di sini nyanyian itu ditimbang, digubah ulang, dan akhirnya menjadi milik umat sendiri, dari gong Bacan tahun 1558 sampai Kidung Jemaat, Madah Bakti, dan Puji Syukur.
Ditulis dari arsip koran Hindia Belanda, disertasi yang didigitalkan, dan terbitan akses terbuka, dengan satu aturan: tidak ada klaim yang ditulis dari ingatan. Lengkap dengan catatan per bab, glosarium, kronologi, bibliografi, peta, dan 17 ilustrasi.
Mulai dari 1 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 85.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Minggu malam, di sebuah gereja di kota besar Indonesia.
Ruangannya gelap dan sejuk. Panggungnya terang. Layar LED selebar dinding menampilkan lirik di atas rekaman awan yang bergerak perlahan. Tim musik sudah di posisi: drum di balik sekat kaca, dua gitar, kibor, empat penyanyi dengan alat monitor di telinga. Pemimpin pujian mengangkat tangan dan tersenyum. "Mari kita berdiri, dan menyanyi bagi Tuhan."
Umat berdiri. Intro mengalun delapan birama, lalu lagu dimulai pada nada dasar yang nyaman untuk penyanyi terlatih. Orang-orang menatap layar. Bibir-bibir bergerak. Beberapa tangan terangkat, beberapa ponsel juga, merekam. Suara dari pengeras begitu penuh, begitu rapi, sehingga ketika seorang bapak di barisan tengah berhenti menyanyi, tidak ada yang menyadarinya. Ia sendiri hampir tidak menyadarinya.