
Sebuah gereja di kota yang dirancang dari atas meja, 1900–1942.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 110.000
Masuk untuk membuka aksesBuku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Jilid pertama sejarah ilmiah sebuah jemaat dan sebuah gedung di Batavia. Menteng dirancang sebagai kota taman kolonial; jemaatnya beribadah menumpang di tempat orang lain dari 1923 sampai 1936; lalu Nassaukerk berdiri di tepi Burgemeester Bisschopplein, dibangun tanpa subsidi negara dan diresmikan pada 6 Juni 1936. Jilid ini mengikuti kota, jemaat, gedung, dan aula yang hidup itu sampai kabar perang tiba dan kapitulasi 8 Maret 1942.
Ditulis dari sumber primer sezaman, terutama koran berbahasa Belanda di Delpher, notulen sinode, dan arsip jemaat, lengkap dengan catatan kaki, catatan panjang, bibliografi, dan 29 ilustrasi arsip. Jilid II melanjutkan kisahnya sampai gedung itu bernama Pauluskerk.
Mulai dari 1 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 110.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Pukul setengah tujuh pagi, sebelum lalu lintas Menteng mengeras menjadi deru yang tidak lagi berjeda, kawasan ini masih menyimpan sejenis keheningan yang ganjil, keheningan yang terasa terlalu tua untuk sebuah kota seperti Jakarta. Pohon-pohon yang ditanam hampir seabad lalu menahan cahaya pertama di pucuknya. Trotoar yang lebar, halaman yang dalam, jarak yang sengaja diatur antara satu rumah dan rumah berikutnya: semuanya adalah peninggalan dari sebuah gagasan lama tentang bagaimana seharusnya orang hidup di bawah langit tropis. Dan di salah satu sudut kawasan itu, di seberang bayangan pohon yang memanjang ke barat, berdiri sebuah gedung gereja yang menaranya lebih tinggi daripada hampir segala hal di sekelilingnya.
Bagian I · Tanah Sebelum Ada Gereja
Menteng sebagai Proyek Modernitas Kolonial2 menitGratisBagian II · Jemaat yang Belum Punya Rumah
Embrio Komunitas, 1923–19362 menitBagian IV · Menjelang Badai
Bayang-Bayang Perang Mendekati Menteng, 1940–19421 menit