
Tiga puluh hari di rumah terakhir Gang Duku.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 49.000
Masuk untuk membuka aksesBu Ratna meninggal pada umur tujuh puluh empat dan meninggalkan rumah terakhir di Gang Duku, sisa kampung di belakang menara-menara Kuningan yang sudah dikepung seng proyek. Selama empat puluh tahun, dari pintu hijau rumah itu pedagang gerobak mengambil dus minuman sebelum subuh dan membayar setelah dagangan laku.
Pengembang menawar dengan harga yang bisa mengubah hidup ketiga anaknya: Bonar yang terlilit utang, Maria yang pernikahannya mendingin, dan Ucok yang sudah lama berhenti percaya. Syaratnya, rumah itu harus kosong dalam tiga puluh hari. Di lemari jati ibu mereka menemukan sebelas buku bon bersampul plastik biru. Di setiap halaman ada satu kolom yang ditulis tangan ibu selama empat puluh tahun: tidak dagang, tidak tagih.
Sebuah novel tentang kota yang berdetak dengan kalender dan orang-orang kecil yang hidup dengan nafas, tentang utang yang dicoret dan kasih yang tidak pernah ditagih, dan tentang apa artinya memiliki sesuatu.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 49.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
3 Mei 1979. Buka. Teh 10 dus, gula 1 krg. Modal pinjam.\ Tuhan, cukupkan.
Peti Mamak tidak bisa keluar dari Gang Duku.
Bonar tahu itu di tikungan ketiga, ketika ujung peti yang ia pikul di bahu kiri membentur seng proyek dan bunyinya merambat sepanjang pagar seperti drum kosong dipukul. Enam lelaki di bawah peti berhenti bersamaan. Di belakangnya seseorang menyebut nama Tuhan, setengah kaget, setengah minta maaf.
Mereka mundur. Peti dimiringkan, lalu dicoba lagi. Ujungnya masuk sejengkal ke tikungan dan tertahan pada tiang besi yang menyangga seng. Dulu gang ini cukup untuk dua gerobak berpapasan, asal salah satunya mau mengalah. Sekarang seng biru setinggi tiga meter berdiri di kedua sisi, dipaku pada rangka besi, dan setiap beberapa bulan rangka itu bergeser sedikit ke dalam, seperti penumpang angkot yang pelan-pelan memakan tempat duduk di sebelahnya sambil pura-pura tidur.
Bagian I: Kalender
Rumah Terakhir di Gang DukuBab 1 · 15 menitGratisBagian II: Nafas
Buku Kedua BelasBab 11 · 14 menitBagian III: Simpul
Tangga GelapBab 18 · 14 menit