
Untuk kamu yang sedang berduka, dan lelah berpura-pura kuat.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 39.000
Masuk untuk membuka aksesBuku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Di ibadah penghiburan kita sering mendengar: "Tuhan lebih sayang dia." "Jangan menangis terus, nanti dia tidak tenang." Kalimat-kalimat itu diucapkan dengan niat baik, tetapi banyak orang yang berduka akhirnya menangis diam-diam di kamar mandi, merasa air matanya adalah tanda iman yang lemah.
Buku ini berangkat dari ayat terpendek di Alkitab: Maka menangislah Yesus. Ia tahu Lazarus akan bangkit, dan Ia tetap menangis.
Dua belas bab yang jujur dan hangat, bersama Ayub, Marta dan Maria, pemazmur, Petrus, Yusuf, Daud, Naomi, dan Maria Magdalena: tentang hari-hari pertama yang mati rasa, duka yang datang seperti gelombang, marah kepada Tuhan, penghiburan yang melukai, rasa bersalah, kehilangan orang tua dan anak, kehilangan tanpa pemakaman, sampai berduka sebagai orang yang berpengharapan. Lengkap dengan 40 Hari Pertama, halaman untuk yang mendampingi orang berduka, kapan perlu mencari bantuan, dan panduan komsel.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 39.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Suami Lena meninggal pada hari Selasa pagi. Ia berangkat kerja seperti biasa, pamit sambil membawa kotak bekal, dan dua jam kemudian telepon dari kantornya berbunyi. Serangan jantung. Umurnya lima puluh dua tahun.
Hari-hari sesudahnya berjalan sangat cepat dan sangat lambat sekaligus. Ada jenazah yang harus diurus, ada peti yang harus dipilih, ada keluarga yang datang dari luar kota, ada ibadah penghiburan tiga malam berturut-turut. Rumah penuh orang. Kursi-kursi plastik berjajar sampai ke jalan. Lena bersalaman dengan ratusan tangan dan mendengar ratusan kalimat yang sekarang tidak bisa ia ingat satu pun.
Yang ia ingat justru ini: ia tidak menangis di pemakaman. Orang-orang memujinya. “Ibu kuat sekali,” kata mereka. “Imannya luar biasa.”
Ketika Dunia Berhenti
Dunia Tetap Berputar, Aku TidakBab 1 · 5 menitGratisPertanyaan yang Tidak Sopan
“Seandainya Engkau Ada di Sini”Bab 4 · 5 menitKehilangan yang Berbeda-beda
Ketika Orang Tua PergiBab 8 · 5 menit