
Untuk anak 8 sampai 11 tahun yang suka teka-teki, dan sedang belajar untuk tidak cepat menuduh.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 35.000
Masuk untuk membuka aksesDimas, sepuluh tahun, anak kota yang jago teka-teki tetapi diam-diam takut laut, terpaksa menghabiskan libur sekolah bersama adiknya, Kirana, di rumah Opa dan Oma di Tanjung Batu, sebuah desa nelayan di tepi laut. Membosankan, pikirnya. Tidak ada sinyal, tidak ada apa-apa.
Tetapi pada Minggu pagi pertama, lonceng tua gereja di atas bukit hilang dari menaranya, dua minggu sebelum gereja merayakan ulang tahun ke-100. Lonceng itu dulu menuntun perahu-perahu nelayan pulang ketika kabut turun. Bersama Kirana dan dua teman baru, Yoel dan Meilani, Dimas membuka Buku Kasus-nya. Bekas roda, tetes oli, potongan tali, bunyi denting logam di malam hari, dan seorang anak baru yang pendiam dan sering terlihat keluar dari gereja malam-malam.
Dimas yakin sudah menemukan pelakunya. Tetapi bagaimana kalau ia salah? Sebuah misteri yang seru tentang persahabatan, keberanian, janji yang dijaga, dan belajar untuk tidak cepat menuduh.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 35.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Dimas mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, setinggi lengannya bisa menjangkau. Satu garis sinyal di pojok layar berkedip, lalu hilang.
“Kak Dimas kayak orang minta hujan,” kata Kirana. Adiknya yang berumur delapan tahun itu duduk di bangku kayu kapal motor sambil mengayun-ayunkan kaki. “Coba angkat dua tangan. Siapa tahu sinyalnya lebih suka dua tangan.”
Papa tertawa dari bangku seberang. “Sudahlah, Dim. Di Tanjung Batu sinyal memang malu-malu. Kadang ada di ujung dermaga, kadang ada di atas bukit gereja. Kadang tidak ada sama sekali.”
“Berarti dua minggu lebih aku tidak bisa apa-apa,” kata Dimas. Ia memasukkan ponsel ke saku dengan wajah seperti orang yang baru diberi tahu bahwa besok tidak ada makan siang.
Rp 35.000