
Seri Iman & Uang, Buku 4. Untuk kamu yang ingin usahanya maju, tanpa harus menjual hati nurani.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 50.000
Masuk untuk membuka aksesNota yang bisa dinaikkan sedikit. Takaran yang bisa dikurangi tanpa ada yang tahu. Upah pekerja yang bisa ditunda sampai minggu depan. "Uang terima kasih" supaya izin cepat keluar. Bagi orang yang berdagang dan bekerja, iman tidak hanya diuji di gereja pada hari Minggu, tetapi juga di balik meja dagang pada hari Senin.
Buku ini menemanimu menjalankan usaha dengan cakap dan jujur, bersama Lidia si penjual kain ungu, Akwila dan Priskila si pembuat kemah, perempuan cakap dalam Amsal 31, Petrus yang semalaman tidak menangkap apa-apa, dan suara para nabi yang membela orang kecil di pasar. Isinya: menghitung dengan benar, menimbang dengan tepat, membayar upah dengan adil, bermitra dengan sehat, bersaing tanpa menindas, berhati-hati dengan utang usaha, bangkit ketika rugi, beristirahat, dan menjadikan usaha berkat bagi sesama.
Dua belas bab pendek dengan renungan, langkah kecil, dan doa, bonus 30 Hari Usaha yang Jujur, Lembar Periksa Usaha, dan panduan enam pertemuan untuk komsel. Buku keempat seri Iman & Uang.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 50.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Apa pun yang kamu kerjakan, kerjakanlah dengan segenap hatimu, seolah-olah untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)
Pasar pagi selalu punya bunyinya sendiri. Ada suara pisau yang memotong di atas talenan kayu, ada tawar-menawar yang naik turun seperti lagu, ada tukang parkir yang meniup peluit, ada ibu-ibu yang memanggil langganannya dengan nama kecil. Dan di antara semua bunyi itu, kalau kamu mau memperhatikan, ada satu bunyi yang sangat pelan: denting anak timbangan yang diletakkan di atas piringan logam.
Banyak pedagang di pasar tradisional sekarang sudah memakai timbangan yang angkanya muncul di layar kecil. Tetapi di beberapa los, timbangan lama masih dipakai. Dua piringan, satu tiang, sebuah jarum di tengah. Di satu sisi diletakkan cabai, bawang, atau beras. Di sisi lain diletakkan anak timbangan dari besi, yang ukurannya sudah tertera. Pembeli menunggu jarum itu berhenti di tengah. Pedagang menunggu juga. Pada saat yang singkat itu, sebetulnya ada sesuatu yang lebih besar daripada urusan setengah kilo bawang. Ada kepercayaan yang sedang ditimbang.
Bagian I: Meja yang Jujur
Neraca Milik TuhanBab 1 · 11 menitGratisBagian II: Bertumbuh dengan Benar
Perempuan yang CakapBab 7 · 12 menit